Dia melihatku sangat tajam hari ini. Dengan diam, tenang dia memperhatikanku sangat mendetail. Sampai hati ini seakan ikut dperhatikan olehnya secara mendalam. Dingin pandangan itu dan erat menggenggam.
Perlahan dia mulai bergerak, tapi tak banyak. Hanya satu langkah. Diam kembali memperhatikanku. Kali ini lebih mendetail. Bagaikan menggunakan alat ukur, dia mulai seperti mengukur dan menghitung diriku. Aku tak mengerti apa artinya. Tapi, tetap saja dia melakukannya. Tanpa peduli dia tetap memperhatikanku. Mungkin lebih tepatnya kali ini mengamatiku.
Hah? Dia tidak berhenti sampai disana. Haaaaaaaaaaaa.......
Berhenti....hentikan itu....Aku tidak suka...
Akhhhhhhhhh......aku tak mengerti untuk apa itu.............
Hentikan sekarang juga............................................
Diamlah disana....Aku sedang melakukan sesuatu untukmu...Tenang saja. Aku tidak akan melukaimu
Percaya saja...Apa yang sedang kau pikirkan tentang apa yang kau lakukan.Apakah akan menuju sebuah kenestapaan untukmu? Atau kau saja yang mengharapkan sesuatu.
Duduklah diam disana. Dengarkan aku.... Dan lihat bagaimana cinta itu melakukan hal yang lebih besar dari apa yang kau harapkan...
Memang kehidupan ini terus berlanjut dan akan berlanjut dengan atau tanpa diriku tapi menorehkan beberapa kejutan dalam kehidupan ini ....mungkin bermanfaat buatku atau buat siapa saja
Monday, 30 November 2009
Thursday, 22 October 2009
Menentukan cinta (bagian 2)
“Cinta yang ditentukan adalah cinta yang tidak pernah buta”. Penggalan ini sebagai jembatan antara cinta yang memang mencari. Dia tidak akan pernah berhenti sampai dia bertemu dengan sesuatu yang menyempurnakan dia. Salah satu penyempurnanya adalah bagian hitam dari sebuah cinta.
“Akh….aku benci dia hari ini. Kenapa dia tak pernah memperhatikanku. Bahkan untuk menghubungikupun tidak. Ah…………..”. Bagian dari “hitam”nya cinta jangan pernah kau lupakan. Sebenarnya bukan hitam, tapi lembaran itu, sulit untuk kucarikan sebuah kata yang memang tepat mewakilinya. Bagian ini tetap ada, walau sebagaimana hebatnya dirimu untuk merasakan indahnya sebuah penentuan cinta itu.
Sakit hati, cemburu, merasa tidak dihargai mungkin ini hanya sebagian kecil dari bagaiman cinta itu terekspresi dengan atau tanpa sadar. Sesuatu yang kontradiksi, tapi seolah-olah dia menyempurnakan. Tapi apa memang itu sebuah proses dalam menyempurnakannya?
…………………………………………………………………………………………………………………
Sambil berpikir dan mencoba merasakan apa pahitnya cinta itu (sekarang aku menukar hitam itu dengan pahit…apa iya cocok?), mungkin kau pernah merasakan beberapa. Tapi apakah itu seolah-olah merusakkan semangat untuk menentukan cintamu? Penentuannya tidak semata-mata berakhir saat hitam pahit itu bercampur sehingga kau tidak dapat memisahkan apa itu hitam dan apa itu pahit. Menentukan antara baik dan buruk itu gampang. Tapi, apakah kau sanggup menentukan di saat pilihan itu hanya ada buruk dan buruk atau baik dan baik.
Proses menentukan itu panjang. Tarik nafas sejenak dan lakukan kembali pengembaraanmu…
Sedang menarik nafas tapi seolah akan menghembuskannya nanti saja,
“Akh….aku benci dia hari ini. Kenapa dia tak pernah memperhatikanku. Bahkan untuk menghubungikupun tidak. Ah…………..”. Bagian dari “hitam”nya cinta jangan pernah kau lupakan. Sebenarnya bukan hitam, tapi lembaran itu, sulit untuk kucarikan sebuah kata yang memang tepat mewakilinya. Bagian ini tetap ada, walau sebagaimana hebatnya dirimu untuk merasakan indahnya sebuah penentuan cinta itu.
Sakit hati, cemburu, merasa tidak dihargai mungkin ini hanya sebagian kecil dari bagaiman cinta itu terekspresi dengan atau tanpa sadar. Sesuatu yang kontradiksi, tapi seolah-olah dia menyempurnakan. Tapi apa memang itu sebuah proses dalam menyempurnakannya?
…………………………………………………………………………………………………………………
Sambil berpikir dan mencoba merasakan apa pahitnya cinta itu (sekarang aku menukar hitam itu dengan pahit…apa iya cocok?), mungkin kau pernah merasakan beberapa. Tapi apakah itu seolah-olah merusakkan semangat untuk menentukan cintamu? Penentuannya tidak semata-mata berakhir saat hitam pahit itu bercampur sehingga kau tidak dapat memisahkan apa itu hitam dan apa itu pahit. Menentukan antara baik dan buruk itu gampang. Tapi, apakah kau sanggup menentukan di saat pilihan itu hanya ada buruk dan buruk atau baik dan baik.
Proses menentukan itu panjang. Tarik nafas sejenak dan lakukan kembali pengembaraanmu…
Sedang menarik nafas tapi seolah akan menghembuskannya nanti saja,
Sunday, 18 October 2009
ditopang
tentu beban tak tanggal
lenyap serta merta
dan beban yang kupikul
tak jatuh segera
kendati demikian
bertambah dayaku
sebab pengasihanNya
menopang hidupku
lenyap serta merta
dan beban yang kupikul
tak jatuh segera
kendati demikian
bertambah dayaku
sebab pengasihanNya
menopang hidupku
Saturday, 10 October 2009
kemalangan di malang sampai "malang-malang" sambil makan baso malang
"huff...." Mungkin ini bagian dari hembusan nafas (yang tidak tahu panjang atau tidak) setelah aku menginjakkan bandara Djuanda di kota Surabaya. Perjalanan yang tidak seharusnya kulakukan tapi mau tidak mau harus kulakukan.
Aku mendapatkan kosa kata baru mulai Kamis, 8 September 2009 yang lalu. "Rerute". Aku tidak terlalu suka kata itu, tapi gara-gara itu aku harus menambah 2.5 jam perjalananku ke Malang.
Harusnya aku langsung berangkat dari Jakarta langsung ke Malang. TApi karena bandara di Malang sedang rusak (force majeur..bener ga menuliskannya :) ), aku harus terbang ke Surabaya. Trus melanjutkan perjalanan melalui darat ke Malang.
Nah, rerute itu artinya berpindah jalur penerbangan.
Sungguh suatu hal yang diluar dugaan. Memang semuanya ada dalam genggaman TUhan dan aku bersyukur bisa melihat dan merasakan semua itu. Tapi menikmatinya? Nanti dulu.
.......................................
Dengan segala kemarahan yang meluap dan dengan sedikit menahan kantuk, aku harus melewati hari pertamaku menikmati si "rerute" itu di hari Kamis. Bagaimana tidak marah dan kesal, aku tidak dikabari dan tidak ada kompensasi. Sebenarnya sih ga marah-marah amat. Hanya ingin mengetahui apakah prosedural GAruda bisa memuaskan penumpang yang seperti saya. Karena saking kesel bercampur iseng, saya marah beneran...hehe...piss mas CS GAruda :)
JIka saya pulang tanggal 9 hari Jumat, aku bisa terbang langsung ke Jakarta. Tapi karena agendaku pulang tanggal 10, alhasil aku harus menikmati si "rerute" lagi.
Trima kasih buat pelajaran 3 hari ini.
Judulnya seh banyak kata "malang", tapi di atas semuanya aku bisa belajar.
Klo dari dulu teman-teman sekolah dan kampus selalu protes. "Kita belajar teori saja, mana prakteknya?". Kali ini aku belajar teori sekalian praktek dalam suatu waktu yang bersamaan.
Luar biassssssssssaaaaaaaaaaaaaaaa......
10092009
surabaya sehabis turun dari bis dari Malang,
Aku mendapatkan kosa kata baru mulai Kamis, 8 September 2009 yang lalu. "Rerute". Aku tidak terlalu suka kata itu, tapi gara-gara itu aku harus menambah 2.5 jam perjalananku ke Malang.
Harusnya aku langsung berangkat dari Jakarta langsung ke Malang. TApi karena bandara di Malang sedang rusak (force majeur..bener ga menuliskannya :) ), aku harus terbang ke Surabaya. Trus melanjutkan perjalanan melalui darat ke Malang.
Nah, rerute itu artinya berpindah jalur penerbangan.
Sungguh suatu hal yang diluar dugaan. Memang semuanya ada dalam genggaman TUhan dan aku bersyukur bisa melihat dan merasakan semua itu. Tapi menikmatinya? Nanti dulu.
.......................................
Dengan segala kemarahan yang meluap dan dengan sedikit menahan kantuk, aku harus melewati hari pertamaku menikmati si "rerute" itu di hari Kamis. Bagaimana tidak marah dan kesal, aku tidak dikabari dan tidak ada kompensasi. Sebenarnya sih ga marah-marah amat. Hanya ingin mengetahui apakah prosedural GAruda bisa memuaskan penumpang yang seperti saya. Karena saking kesel bercampur iseng, saya marah beneran...hehe...piss mas CS GAruda :)
JIka saya pulang tanggal 9 hari Jumat, aku bisa terbang langsung ke Jakarta. Tapi karena agendaku pulang tanggal 10, alhasil aku harus menikmati si "rerute" lagi.
Trima kasih buat pelajaran 3 hari ini.
Judulnya seh banyak kata "malang", tapi di atas semuanya aku bisa belajar.
Klo dari dulu teman-teman sekolah dan kampus selalu protes. "Kita belajar teori saja, mana prakteknya?". Kali ini aku belajar teori sekalian praktek dalam suatu waktu yang bersamaan.
Luar biassssssssssaaaaaaaaaaaaaaaa......
10092009
surabaya sehabis turun dari bis dari Malang,
Tuesday, 29 September 2009
Menentukan cinta (Bagian 1)
Berawal dari melihat tapi kemudian berlanjut kea rah memperhatikan. Tidak hanya berhenti saat disitu, tapi bergerak secara dinamis ke percobaan dalam memperdulikannya. Apakah sudah berhenti? Belum juga. Kini beranjak kea rah yang lebih mendalam. “Tak ingin lepas dari komunikasi yang menyenangkan”. Ini adalah anak tangga selanjutnya dalam membina rasa itu. Berhentikah? Hmmmm….Belum juga tampaknya. Sayang itu mulai muncul. Rasa yang tak diinginkan dan yang terkesan lemah ini akhirnya menunjukkan tunasnya.
Begitu banyak titik dan anak tangga yang harus dilalui. Tapi dia tekun untuk melewatinya. Apa yang membuat dia tekun untuk melewatinya? Mungkin karena dia menikmati setiap proses yang ada. Dia merasakan semua itu ada manfaatnya dan kesemuanya itu dilakukan karena dia ingin mencapai sesuatu.
Tapi, jangan pernah menyalakan api yang tak ingin kau padamkan. Jangan pernah membakar cinta yang tak ingin kau inginkan. Mencintai sesuatu adalah proses pilihan. Saat kau menyatakan “iya”, saat itulah kau menentukan cinta. Apakah ini harus kau perjuangkan atau kau hentikan saat itu juga. Banyak hal yang membuat seseorang lemah akan godaan cinta. Merasa tak ingin komunikasi berubah, tak ingin kehilangan sosok teman, tak ingin kehilangan bantuan yang selalu ada di saat dia butuh, tak ingin-tak ingin yang lain yang sudah dinikmati bersama.
Kesemuanya itu proses menentukan. Cinta yang ditentukan adalah cinta yang tak pernah buta. Dia bisa melihat, menyadari, mengevaluasi diri sendiri, menyatakan dan berani mengungkapkan sesuatu. Sudahkah kau tentukan cintamu?
Yang takut menentukan cintaku sendiri,
Begitu banyak titik dan anak tangga yang harus dilalui. Tapi dia tekun untuk melewatinya. Apa yang membuat dia tekun untuk melewatinya? Mungkin karena dia menikmati setiap proses yang ada. Dia merasakan semua itu ada manfaatnya dan kesemuanya itu dilakukan karena dia ingin mencapai sesuatu.
Tapi, jangan pernah menyalakan api yang tak ingin kau padamkan. Jangan pernah membakar cinta yang tak ingin kau inginkan. Mencintai sesuatu adalah proses pilihan. Saat kau menyatakan “iya”, saat itulah kau menentukan cinta. Apakah ini harus kau perjuangkan atau kau hentikan saat itu juga. Banyak hal yang membuat seseorang lemah akan godaan cinta. Merasa tak ingin komunikasi berubah, tak ingin kehilangan sosok teman, tak ingin kehilangan bantuan yang selalu ada di saat dia butuh, tak ingin-tak ingin yang lain yang sudah dinikmati bersama.
Kesemuanya itu proses menentukan. Cinta yang ditentukan adalah cinta yang tak pernah buta. Dia bisa melihat, menyadari, mengevaluasi diri sendiri, menyatakan dan berani mengungkapkan sesuatu. Sudahkah kau tentukan cintamu?
Yang takut menentukan cintaku sendiri,
Subscribe to:
Posts (Atom)