Showing posts with label bersamaNya. Show all posts
Showing posts with label bersamaNya. Show all posts

Tuesday, 22 May 2012

Karena Tuhan

Karena Tuhan 
Cipt : Daniel A Nababan
C=do,4/4 (terinspirasi dari II Korintus 1:7)

             C                Am7                  
Dipertemukan, dan dikumpulkan
              Dm7        Dm7/G          G
Dipersatukan dalam sebuah keluarga Tuhan
             C                Am7                  
Kaulah temanku, engkau saudaraku
        Dm7        Dm7/G          G 
karena Kristus kita satu dan menjadi keluarga
Bridge : 
       Em             Am9
walau kita saling berbeda
      Em             Dm7                G
walau kita tak slalu bersama di dunia ini

Reff :
        F      G                 Em               A7
tapi Dia 'kan memperlengkapi s'tiap kita
            Dm7        G7          C Gm C7
tuk menjadi bagian dari k'luarga sejati
            F               G              Em
dan kasihNya biarkan s'lalu mengalir
            A7            Dm7               G7          C
dan menjadi dasar kita 'tuk melayaniNya bersama

Renungan: 
...karena kami tahu, bahwa sama seperti kamu turut mengambil bagian dalam kesengsaraan kami,kamu juga turut mengambil bagian dalam penghiburan kami...(II Korintus 1:7)Keluarga bagiku adalah tempat membagikan apa yang telah Tuhan kerjakan dalam hidup kitakepada orang lain. Baik itu dukacita maupun sukacita. Membagikan dukacita, agar saudara kita tahubahwa dengan dukacita yang kita lewati bersama Kristus,saudara kita dapat dikuatkan. Membagikan sukacita, agar saudara kita tahu bagaimana bersyukur dan bersukacita bersama karena Tuhan.Pada suatu siang, saya mencoba kembali mengingat apa yang tlah Tuhan kerjakan dalam hidupku.Hal terbesar yang Dia lakukan adalah memberikanku kesempatan utk meraih anugrah keselamatan.Dan bukan hanya sampai disitu saja, aku yang dahulu "jauh" sudah menjadi "dekat" oleh darah Kristus.Proses pembentukannya tidak cukup hanya sekali. Melalui pertemuan pribadi dengan Allah dan melalui pembinaan-pembinaanNya melalui anak-anakNya. Tak dapat kupungkiri, hal itu berpengaruh besardalam hidupku. Pembinaan yang amat kurasakan adalah ketika aku kuliah di Unpad. Di sebuah kota Jatinangor, tangan Tuhan tetap membina aku. Bukan suatu kebetulan aku ada di kota itu. "Dipertemukan dan dikumpulkan..."adalah lirik pertama yang aku pilih karena memang tangan Tuhan yang memelihara itu-lah yangmempertemukan dan mengumpulkan aku dan kau dalam sebuah wadah persekutuan di PMK Jatinangor.Seperti dalam Efesus 2:12-14, dahulu yang tidak termasuk dalam kewargaan, kini masuk dalam kewargaan kerajaan Allah. Dia yang mempersatukan kita dalam sebuah keluarga Tuhan.Bait pertama lagu ini bercerita tentang proses bagaimana Tuhan menjadikan kita(PMK Jatinangor) sebuah keluarga.Jika dulunya hanya dianggap teman, namun sekarang lebih "dalam" lagi. Terungkap kata "saudara" di dalam lagu ini.Lagi-lagi diingatkan, kita dipersatukan karena Tuhan.Bagian bridge atau pertengahan lagu ini menjembatani kita dan membawa kita pada penghayatan,1. walau Tuhan t'lah mempersatukan kita, tapi kita sebagai manusia berdosa pasti terkadang berselisih paham dengan saudara kita yang lain. Konflik itu pasti terjadi dan perbedaan itu memang nyata.2. walau Tuhan t'lah mempersatukan kita, tp kita tak selamanya bisa bersama, saling menguatkan atau tetap terbina dan melayani di satu lingkungan saja.Dunia kampus akan selesai, lulus dan menjadi alumni... Apakah kita masih tetap bisa tumbuh bersama?Masihkah kita bisa kunjungan ke kosan teman utk menguatkan... Masihkah kita sempat utk merawat teman yang sedang sakit???Apa yang menjadi inti pemecahan masalah ataupun dilema itu?Agar kita bisa tetap menjadi keluargayang TUhan harapkan??1."tapi Dia 'kan memperlengkapi s'tiap kita tuk menjadi bagian dari k'luarga sejati..." (terinspirasi dari Efesus4:12) Yang pertama dan utama ialah bukan kita yang berusaha agar kita tetap menjadi sebuah keluarga. Tapi, karena Tuhan. Dia yang memperlengkapi kita bagi pembangunan tubuh Kristus yang seutuhnya.2."dan kasihNya biarkan s'lalu mengalir dan menjadi dasar kita 'tuk melayaniNya bersama" Dalam surat I Korintus 13, terdapat ada bnyk perbedaan dalam jemaat di Korintus. Tapi dari banyaknya perbedaan itu, pasal ini ditutup dengan sebuah kata kasih. Itulah kunci pemecahan masalah yang saya tampilkan di lagu ini. Walau berbeda, kita masih punya kasih yang mempersatukan. Dan kita dipersatukan untuk tetap menjadi satu tubuh Kristus. Satu tubuh Kristus yang melayani bersama. Biarlah kasihNya yang mengalir dan menjadi dasar kita untuk melayaniNya bersama. Saat ini mungkin hanya area Jatinangor. Tapi suatu saat, seluruh Indonesia bahakan dalam dunia ini bumi penuh kemuliaan Allah. Karena aku, karena engkau dan pastinya karena Tuhan.


Penekanan-penekanan lagunya terdapat di lirik "engkau saudaraku", "tapi Dia", , "dan kasihNya", karenamenggunakan nada-nada dengan jangkauan yang lebih tinggi tapi tetap pada range nada-nya.Pemakaian tanda triol terdapat pada lirik "tuk menjadi" pada bagian refrain. 

Semoga jadi berkat
d'Niel 28102006

Monday, 11 October 2010

Mengapa ada warna?




Mengapa sejumlah pohon berubah menjadi semacam kolase pancaran warna merah anggur, merah, oranye, dan kuning pada musim gugur? Pepohonan tampak hijau di musim panas karena klorofil, suatu pigmen hijau yang terkandung dalam dedaunan, bekerja menyerap sinar merah dan biru dari matahari. Sinar yang terpancar dari daun itulah yang terlihat hijau pada mata kita.

Klorofil adalah zat yang tidak stabil, dan sinar matahari yang terang menyebabkannya membusuk dengan cepat. Oleh karena itu, tanaman harus terus-menerus bersintesis dan beregenerasi. Namun, hari-hari yang lebih pendek dan malam-malam musim gugur yang sejuk telah mempengaruhi proses tersebut. Ketika klorofil terurai, warna hijau dari dedaunan pun mulai memudar. Sejumlah pohon berubah warna dari hijau ke kuning cerah karena jumlah klorofilnya berkurang. Pada pepohonan yang lain, kadar gula di dalam dedaunan menghasilkan pigmen merah, yang menyebabkan dedaunan berubah warnanya menjadi merah anggur, ungu, dan merah cerah ketika klorofilnya memudar.

Namun, mengapa ada warna? Rasanya tidak ada kegunaan yang praktis dari warna—sesuatu yang juga tidak dapat dimengerti oleh para ilmuwan. Dan mengapa ada fotoreseptor (sel-sel khusus yang menerima atau peka terhadap cahaya) di dalam mata kita yang memampukan kita untuk melihat warna?

Saya percaya bahwa kebaikan Allah merupakan maksud penciptaan-Nya. Dia “itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya” (Mzm. 145:9). Allah mewarnai dunia demi kesenangan kita. Tahukah Anda bahwa Allah kita itu baik? —HDR

Allah, Perancang dari segala ciptaan
Berfirman, maka keindahan pun tercipta,
Lalu Dia b’rikan keselamatan agung-Nya pada kita
Melalui pengorbanan Putra tunggal-Nya. —Hess
Kemuliaan Allah bersinar melalui ciptaan-Nya.

1:1 Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,

1:2 tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.

1:3 Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.

1:4 Bukan demikian orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiupkan angin.

1:5 Sebab itu orang fasik tidak akan tahan dalam penghakiman, begitu pula orang berdosa dalam perkumpulan orang benar;

1:6 sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.

Sunday, 10 October 2010

Jangan dilumpuhkan kesedihan



Kesedihan adalah bagian yang tidak terelakkan dalam hidup. Kita tidak dapat memutuskan untuk tidak bersedih, karena memang "ada waktu untuk menangis" (Pkh. 3:4). Namun kita dapat memutuskan bahwa kesedihan tidak sampai melumpuhkan kita.

Kematian Absalom melahirkan kepedihan yang begitu dalam di hati Daud (18:33). Sedemikian berdukanya Daud sehingga tentaranya yang pulang dari medan perang masuk kota diam-diam, seperti baru saja kalah perang (19:3). Padahal tentara yang menang perang biasanya akan disambut dengan sorak sorai oleh warga kota. Sungguh ironis.

Mengapa Daud begitu sedih? Karena Daud hanya terfokus pada fakta bahwa Absalom, anaknya, mati. Ia tidak melihat sisi lain, yaitu realitas bahwa Absalom adalah pemberontak dan pengkhianat, yang ingin merebut takhta ayahnya sendiri. Daud juga begitu bersedih karena dia tahu bahwa kematian anaknya merupakan bagian dari hukuman Allah terhadap dia karena telah berzinah dengan Batsyeba dan kemudian membunuh suaminya, Uria. Daud tentu masih ingat perkataan nabi Natan, "Pedang tidak akan menyingkir dari keturunanmu sampai selamanya" (2Sam. 12:9-10).

Memperhatikan hal itu, Yoab menegur Daud dengan keras, karena kesedihan Daud berarti mempermalukan orang-orang yang telah menyelamatkan nyawanya. Padahal mereka sendiri mempertaruhkan nyawa mereka untuk membela Daud. Teguran Yoab menyadarkan Daud untuk bangkit dari kedukaan (19:8). Daud harus mengendalikan diri karena dia adalah pemimpin. Banyak hal yang harus diatur dan banyak orang yang membutuhkan kepemimpinannya (8).

Bersedih adalah sesuatu yang normal, yang mungkin dialami oleh setiap orang. Namun membiarkan diri dilanda kesedihan dapat melumpuhkan kita sehingga kita kehilangan kesempatan untuk melihat bahwa Allah, di dalam kasih karunia-Nya, berkenan mengangkat kesedihan kita. Ia juga akan mengaruniakan penghiburan yang menguatkan kita.

Monday, 1 September 2008

Bersama Tuhan Lebih Enak

Pada usia empat tahun anak laki-laki sulung saya, Nathan, tidak dapat berbicara. Ada sekitar enam dokter spesialis THT yang menyatakan bahwa dia mengalami telat berbicara. Lalu saya bawa dia berobat ke Jakarta. Setelah dua minggu menjalani pemeriksaan, anak saya dinyatakan cacat permanen dan tidak ada obat atau terapi untuk membuatnya dapat berbicara. Karena tidak puas dengan semuanya, maka saya bawa dia berobat ke Australia , dan di sana juga dokter menyatakan bahwa anak saya cacat permanen karena terkena virus anjing.Tetapi saya ingat bahwa Tuhan yang kita sembah adalah Allah yang hidup. Saya cuma kembalikan sepenuhnya anak saya kepada Tuhan dan berharap untuk mendapatkan suatu mukjizat. Sejak saat itu saya selalu berusaha ikut berbagai KKR agar anak saya bisa mengalami kesembuhan ilahi. Dimana ada KKR, di sana pasti ada anak saya, Nathan. Tetapi mukjizat belum juga terjadi. Rupanya Tuhan mempunyai rencana yang lain bagi anak saya.Pada suatu hari Tuhan menjawab pergumulan saya. Dia berkata, "Kalau rohanimu bertumbuh 5% saja, maka anakmu juga akan sembuh 5%, demikianlah seterusnya." Ketika Tuhan berbicara tentang pertumbuhan rohani, saya bingung karena pada waktu itu saya sudah melayani Tuhan. Tetapi ternyata di hadapan Tuhan saya ini nol karena hati dan perbuatan saya tidak sesuai dengan firman Tuhan. Setelah saya mengerti, saya mulai melangkah dan memperbaiki hidup saya. Yang dulunya saya suka menonton blue film, menipu, berbuat jahat kepada orang lain dan banyak lagi segi kehidupan saya yang kotor, semuanya itu saya buang.Mukjizat terjadi pada saat anak saya berusia tujuh tahun. Dia mulai bisa berbicara. Saat dia memanggil saya, "Papa!", itu bukan kebahagiaan yang biasa saja, tetapi amat sangat luar biasa karena saya melihat dengan sungguh-sungguh bahwa itu adalah mukjizat dari Tuhan. Menurut perhitungan dan pengetahuan dokter anak saya tidak akan dapat dan tidak akan pernah dapat berbicara. Tetapi bukan demikian kata Tuhan. Karena Tuhan semakin menunjukkan kuasa-Nya saya semakin memperbaiki hidup saya dengan sungguh-sungguh. Dan puji Tuhan, karena karakter saya menjadi semakin baik dan semakin baik, maka anak saya menjadi semakin sembuh.Pada saat dia lulus dari Sekolah Luar Biasa (SLB), saya kemudian menyekolahkan Nathan di sekolah normal. Dia mengalami kesulitan karena pelajaran di sekolah normal jauh lebih tinggi dibandingkan dengan di SLB. Setiap kali menghadapi ulangan harian, dia kedodoran. Bisa mendapatkan nilai 3 saja kami sudah sangat bangga. Tetapi pada suatu ketika saat dia mau menghadapi ulangan umum dia menanyakan apa yang harus dia lakukan dan saya bilang, "Tuhan Yesus pasti tolong kamu. Tuhan Yesus pasti tolong kamu. Tuhan Yesus pasti tolong kamu. Sekarang tugasmu adalah belajar sebisamu." Pada pagi harinya saat saya antar ke sekolah dia meminta saya menumpangkan tangan, berdoa baginya dan saya juga meminta dia untuk berdoa dahulu sebelum mengerjakan soal-soal.Pada saat dia menghadapi ulangan umum, saya berpuasa untuknya. Ketika pulang sekolah dia menceritakan bahwa sesungguhnya dia tidak mampu mengerjakan soal-soal ulangan, tetapi malaikat Tuhan menolong dia. Tangannya terus menulis jawaban dan dia tidak bisa menghentikannya. Dia rasakan bahwa Tuhan telah menjamah tangannya. Ternyata benar apa yang dia katakan. Dia mendapatkan ranking 2 di kelasnya. Sontak sekolahnya sempat gempar. Bahkan Kepala Sekolah mencurigai bahwa Wali Kelasnya menjual jawaban soal kepada anak saya, karena mereka semua tahu bahwa anak saya tidak cerdas. Karena kuasa Tuhanlah, anak saya dari yang tidak mampu dijadikannya menjadi mampu. Anak saya semakin tumbuh dalam hal rohani karena dia juga melihat mukjizat demi mukjizat terjadi dalam hidupnya. Bahkan Tuhan angkat dia masuk ke Universitas melalui jalur prestasi dan mendapatkan beasiswa.Pada suatu hari setelah dia menyelesaikan ujian SMA-nya, isteri saya yang menjemput dia pulang sekolah. Dalam perjalanan, dia berkata, "I love you, mom!" Saya mengasihi mama dan saya sangat mencintai mama.Sesampai di rumah dia merapikan dirinya, kemudian makan dan sempat bergurau dengan mamanya. Sekitar jam 13.30 dia pamit untuk tidur. Dan pada jam 14.00 siang itu anak saya dipanggil Tuhan pulang ke rumah Bapa di Sorga. Hal itu baru diketahui isteri saya sekitar jam 16.30 sore. Isteri saya menemukan Nathan sudah meninggal ketika dia bermaksud membangunkannya. Dia meninggal dengan keadaan yang sangat tenang. Dapat dilihat dari tempat tidur yang masih tertata sangat rapi.Aku sangat terguncang, bahkan tidak tahu kemana harus kubawa hidupku ini. Isteriku dan anakku yang bungsu histeris. Mereka membentur-benturkan kepala mereka ke tembok, sehingga kurangkul paksa mereka supaya mereka tenang dan kami mulai berdoa.Aku berkata, "Tuhan Yesus, Engkau sungguh baik, karena di saat badai seperti ini Engkau memiliki maksud dan rencana yang indah bagi kami dan kami percaya Engkau tidak akan meninggalkan anak-anak-Mu pada waktu menderita."Saat itu aku merasa ada yang aneh. Secara jujur aku tidak kuat menghadapi semua itu, tetapi di hatiku tidak ada sedikitpun perasaan yang menyalahkan Tuhan. Yang ada hanya rasa syukur. Kami bersyukur karena kasih Tuhan yang luar biasa itu melingkupi kami.Saat Nathan dimasukkan ke dalam es untuk diawetkan, pada pagi hari jam 8 ada SMS masuk dari Amerika yang menyampaikan bahwa:"AKU sangat mengasihi anakmu." Bukan itu saja, Dia kirimkan dua orang hamba Tuhan yang tidak kukenal dan juga mereka menyampaikan pesan yang sama: "Aku telah mengirimkan para malaikat-Ku untuk menjemput anakmu. Sekarang anakmu menjadi bagian dari para penyembah-Ku dan bersukacita bersama-Ku."Aku pegang semua itu, meskipun aku tidak tahu apa maksudnya. Aku mulai berpuasa selama 40 hari dan Tuhan menjawab melalui firman-Nya yang terdapat di dalam Wahyu 14:2-5 yang berbunyi: "Dan aku mendengar suatu suara dari langit bagaikan desau air bah dan bagaikan deru guruh yang dahsyat. Dan suara yang kudengar itu seperti bunyi pemain-pemain kecapi yang memetik kecapinya. Mereka menyanyikan suatu nyanyian baru di hadapan takhta dan di depan keempat makhluk dan tua-tua itu, dan tidak seorang pun yang dapat mempelajari nyanyian itu selain dari pada seratus empat puluh empat ribu orang yang telah ditebus dari bumi itu. Mereka adalah orang-orang yang tidak mencemarkan dirinya dengan perempuan-perempuan, karena mereka murni sama seperti perawan. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti Anak Domba itu ke mana saja Ia pergi. Mereka ditebus dari antara manusia sebagai korban-korban sulung bagi Allah dan bagi Anak Domba itu. Dan di dalam mulut mereka tidak terdapat dusta; mereka tidak bercela." Ayat-ayat itu membuatku menangis pada malam itu. Dan ayat-ayat itu terus terngiang-ngiang di dalam pikiranku selama seminggu.

dari kesaksian seorang alumni

Monday, 21 April 2008

Pelihara suluh pantai walau hanya k'lip kelap


Sebuah lagu yang menyemangatiku di saat2 mengingat tubuh yg lemah
dan semangat yg hanya "klip klap" ini
.....................................................................................................................
Mercu Suar Kasih Bapa(Nyanyikanlah Kidung Baru 206)
"Hendaklah ... pelitamu tetap bernyala" (Lukas 12:35)

(1)
Mercu suar kasih Bapa memancarkan sinarNya.
Namun suluh yang dipantai,kitalah penjaganya.
Reff:
Pelihara suluh pantai walau hanya k'lip kelap.
Agar tiada orang hilang di lautan yang gelap.

(2)
Malam dosa sudah turun,ombak dahsyat menyerang.
Banyaklah pelaut mengharap sinar suluh yang terang.

(3)
Peliharalah suluhmu, agar orang yang cemas,
yang mencari pelabuhan,dari mara terlepas.


--------------------------------------------------------------------------------
Syair dan lagu: Let the Lower Lights Be Burning, Philip P.Bliss (1838-1876), terj. E.L. Pohan (1917-1993)
Sejarah Lagu "Mari Barangsiapa Mau"Syair : Whosoever Will May Come, "philip P. Bliss, 1869. Wahyu 22:17.
Lagu : WHOSOEVER, Philip P. Bliss, 1869.


Pada umur sepuluh tahun, Philip P. Bliss belum pernah melihat sebuah piano.
Mungkin Saudara heran atas kalimat itu: Bukankah siapa saja telah melihat sebuah piano serta mendengar bunyinya?
Bagi penduduk kota, mungkin benar. Tetapi banyak rakyat Indonesia yang belum pernah melihat sebuah piano. Demikian juga dengan si Philip. Walaupun ia sudah mendengar ibunya bercerita tentang alat musik besar yang disebut piano, namun ia sendiri belum pernah melihatnya ataupun mendengar bunyinya.

Anak yang Miskin
Philip P. Bliss lahir pada tahun 1838 di sebuah pondok kayu, di daerah pertanian yang agak terpencil, negara bagian Pennsylvania, Amerika Serikat. Keluarganya miskin sekali. Mereka bekerja keras, namun masih sering kekurangan.
Walaupun demikian, keluarga Bliss itu amat suka akan musik. Sering mereka bernyanyi bersama-sama. Pada waktu ayahnya menyadari bahwa si Philip memiliki kegemaran akan musik yang melebihi yang lainnya, ia pergi ke rawa dan memotong sebatang buluh. Dengan pisau raut ia mengukir sebuah suling kasar untuk putranya yang masih kecil.
Philip senang sekali meniup sulingnya. Ia pun mulai menyimpan uangnya yang sangat sedikit, dengan harapan bahwa pada suatu waktu kelak ia akan dapat membeli sebuah biola yang murah.

Musik yang Indah
Ketika si Philip berumur sepuluh tahun, timbullah dalam benaknya akal yang baik. la pergi sekeliling rawa-rawa dan memetik semacam murbei liar yang tumbuh di situ. Ketika keranjangnya penuh, ia pun berjalan kaki melalui jalan yang panas dan berdebu, menuju ke kota. Pakaiannya compang camping, kakinya telanjang. Kian kemari ia menyusuri lorong dan jalan kota, sambil menjajakan buah dagangannya itu. Siapa tahu, mungkin akhirnya ia akan mempunyai cukup banyak uang untuk pembeli sebuah biola.
Tiba-tiba anak laki-laki itu berhenti. Sayup-sayup terdengar musik yang indah sekali...musik yang belum pernah didengarnya. Apakah gerangan itu bunyi piano, alat musik besar yang telah diceritakan oleh ibunya?
Selangkah demi selangkah ia berjalan lebih dekat. Sampailah dia di serambi muka rumah sumber suara yang indah itu. Philip meletakkan keranjang buahnya di lantai. Dengan malu-malu ia pun mendekat lagi.
Pintu rumah itu kebetulan terbuka. Dengan menahan nafasnya, anak petani yang gemar akan musik itu masuk dan berdiri terpaku, mendengar not-not yang begitu indah.
Tiba-tiba wanita yang sedang memainkan piano itu melihat dia. Secara mendadak ia membanting jarinya ke atas tuts piano dengan bunyi yang keras dan janggal. Ia menatap anak laki-laki yang kotor, berpakaian jelek, yang sedang berdiri di pintunya.
Philip Bliss mengeluh dengan kerinduan: "Maaf, silakan nyonya main terus. Belum pernah kudengar musik yang seindah itu."
"Tidak!" bentak wanita itu. "Apa maksudmu, diam-diam masuk ke mari, he? Lihat, bekas kakimu mengotori serambiku. Ayo, pergi!"
Dengan sedih si Philip mengambil keranjangnya dan pergi. Seandainya diizinkan, tentu ia akan berdiri tenang di situ sepanjang hari, asal saja ia dapat mendengar terus suara piano.

Petani Merangkap Pendidik
Pada umur sebelas tahun, Philip Bliss sudah keluar dari rumah ibu bapaknya untuk mencari nafkah sendiri. Ia menjadi seorang buruh di perkebunan, lalu di kehutanan dan di penggergajian kayu.
Sekali-sekali anak yang pandai itu diberi izin pergi ke sekolah untuk sementara waktu. Kesempatan seperti itu selalu disambutnya dengan gembira, juga kalau ada kesempatan pergi ke gereja.
Pada umur duabelas tahun Philip mengaku percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Ia pun dibaptiskan atas dasar imannya itu.
Ketika ia hanya mencapai umur 18 tahun, Philip Bliss dianggap sudah cukup terpelajar, meski bersekolah secara terputus-putus, sehingga ia sanggup menerima jabatan sebagai guru sekolah desa. Tugas mengajar itu hanya selama musim salju saja; kalau dalam pergantian musim datang lagi cuaca yang baik, terpaksa dia menambah penghasilannya yang sedikit, dengan bekerja keras di ladang.

Nenek yang Baik Hati
Pada umur 20 tahun, Philip Bliss mulai berkenalan dengan seorang gadis dari sebuah keluarga di daerah pertanian tempat ia menjadi guru. Baik Lucy Young maupun keluarganya menyukai pemuda yang rajin itu. Mereka pun suka akan musik, sama seperti Philip sendiri; jadi, mereka mendorong dia untuk memperkembangkan bakatnya.
Pada tahun 1859 Philip Bliss menikah dengan Lucy Young. Selanjutnya suami yang baru berumur 21 tahun itu bekerja di perkebunan milik bapak mertuanya.
Lalu ia mendengar bahwa ada kursus musik yang ditawarkan kepada para peminat. Tempat penyelenggaraannya tidak jauh dari rumah keluarga Young dan keluarga Bliss. Tetapi soalnya, keuangan Philip Bliss masih terbatas, sehingga tak mungkin ia mendaftarkan diri untuk kursus tersebut.
Ketika ia insaf akan hal itu, Philip merasa kecewa dan kesal hati. Ia masuk ke dalam rumah dan merebahkan diri pada sebuah balai-balai. Sudah nasib, seumur hidup ia hanya akan sempat menjadi seorang petani dan guru sekolah desa saja.
Kebetulan nenek istrinya melihat Philip dalam keadaan putus asa itu. Wanita yang sudah lanjut usianya itu menanyakan apa sebabnya. Ia diberitahu bahwa paling sedikit 30 dolar diperlukan, jika Philip akan memanfaatkan kesempatan yang luar biasa itu.
"Astaga, 30 dolar 'kan banyak sekali!" kata nenek itu. "Tetapi nenek punya kaus kaki bekas yang sudah lama dipakai sebagai tempat tabungan. Coba lihat, andaikan ada sebanyak 30 dolar di dalamnya ... ya, ambillah saja!"
Dengan bantuan dan dorongan yang tak diharapkan itu, Philip Bliss jadi pergi. Bukan hanya kursus musik itu saja, melainkan juga kursus-kursus lainnya yang serupa ia hadiri, sehingga kecakapannya di bidang musik semakin berkembang.

Kuda Tua dan Orgel Kecil
Pada tahun 1860 Philip Bliss sudah merasa siap memulai suatu karier baru, yaitu sebagai guru musik yang berkelana. Berkat bantuan keluarga istrinya, ia memiliki seekor kuda betina yang sudah tua, dan sebuah orgel lipat kecil yang murah. Pergilah dia berkeliling, sambil mengajar banyak murid tentang dasar seni musik.
Sementara itu, Philip Bliss masih tetap menggunakan tiap kesempatan untuk meningkatkan keahliannya sendiri. Lambat laun ia pun mulai mengarang musik. Pada tahun 1864 ia memberanikan diri mengirim sebuah lagu romantis hasil karyanya kepada sebuah penerbit besar. Permintaannya, andaikan karangan itu diterima, adalah lain daripada yang lain. Ia minta bukan uang, melainkan sebatang suling yang bagus.
Seorang redaktur menerima lagu yang disertai permohonan aneh itu. Kemudian sebatang suling memang dikirim kepada pencipta lagu tersebut. Tetapi lebih daripada itu, menyusullah suatu tawaran agar Philip Bliss menerima jabatan tetap di kantor penerbit musik itu.
Maka nama Philip P. Bliss menjadi tenar. Ia lalu mulai menggubah lagu-lagu rohani. Ia pun mulai memimpin nyanyian sidang dalam kampanye penginjilan raksasa, seperti yang diselenggarakan masa kini oleh Dr. Billy Graham dan orang-orang lain.
Philip Bliss berperawakan tinggi dan tampan. Suaranya merdu sekali. Sering dalam kampanye besar-besaran ia pun memperkenalkan kepada orang banyak sebuah nyanyian pujian yang baru saja dikarangnya sendiri.
Maka ia menjadi terkenal. Uang hasil penjualan lagu-lagunya masuk terus. Ia dengan istrinya dan anak-anak mereka dapat hidup senang. Namun Philip Bliss tidaklah mementingkan kekayaan atau kenamaan. Makin lama makin giat dia melayani Tuhan Yesus, sehingga ia menjadi salah seorang penyanyi injili yang paling disayangi oleh umat Kristen pada masanya.

Pengaruh Tujuh Khotbah
Akhir cerita yang dahsyat dari riwayat Philip dan Lucy Bliss itu diceritakan pada pasal 14 dari JILID 2 dalam seri buku ini: Kedua-duanya meninggal seketika dalam suatu kecelakaan kereta api pada tahun 1876.
Sungguh menyedihkan, bahwa karier Philip Bliss terhenti pada waktu ia baru berumur 38 tahun saja. Namun ia seolah-olah masih hidup juga, melalui banyak lagu injili yang kini dinyanyikan di seluruh dunia.
Semasa hidupnya, Philip Bliss sering mendapatkan buah pikiran untuk karangannya dari bacaan Alkitab dan lukisan khotbah yang didengarnya dalam kampanye penginjilan. Misalnya, lihat saja lagu yang tertera di halaman 77. Perhatikanlah kata-kata yang ditutup dalam tanda kutip: "Barangsiapa mendengar," dan "Mari barangsiapa mau." Kata-kata itu memang dikutip dari Wahyu 22:17.
Ada juga pengaruh lainnya dalam penciptaan "Lagu bagi Siapa Saja" itu. Pada tahun 1869-1870, datang ke Amerika seorang pengkhotbah muda yang terkenal di Inggris, tanah airnya. Ia pun ingin menggantikan pengkhotbah tersohor Dwight L. Moody, selama satu minggu di kota Chicago. D. L. Moody agak segan, tetapi akhirnya ia setuju.
Anehnya, pengkhotbah muda dari Inggris itu menggunakan nas khotbah yang sama selama tujuh malam berturut-turut. Ayat yang diulang-ulanginya yaitu: Yohanes 3:16.
Tujuh khotbah yang didengar oleh banyak orang itu sangat mempengaruhi baik Dwight L. Moody maupun Philip P. Bliss. Segera terciptalah "Lagu bagi Siapa Saja," yang berkisar pada pokok yang sama seperti yang ditekankan dalam Yohanes 3:16.
Mungkin juga Philip Bliss masih ingat akan pengalamannya sendiri sewaktu ia masih kanak-kanak...ketika wanita yang kurang ramah itu mengusir dia dari rumahnya. Pemain piano yang sombong itu tidak mau menerima seorang anak kecil yang miskin, berpakaian compang camping, kakinya kotor tak bersepatu, walau anak itu membujuk dia dengan sangat agar terus memperdengarkan musik yang indah.
Alangkah bedanya Tuhan Yesus! Ia rela menyambut siapa saja yang bertobat dan percaya. Berita Baik itulah yang berkumandang terus dalam nyanyian pujian hasil karya Philip P. Bliss.

Author : H.L. Cermat
Sumber : Riwayat Lagu Pilihan dari Nyanyian Pujian, Jilid 1® Lembaga Literatur Baptis
FRIDAYS WITH COELHOEdisi 07: 24/11/06DI SEBUAH BAR DI TOKYOWanita Jepang itu menanyakan hal-hal yang biasa.“Siapa pengarang-pengarang favorit Anda?”Aku memberikan jawaban-jawaban yang biasanya juga.“Jorge Amado, Jorge Luis Borges, William Blake, dan Henry Miller.”Penerjemahku menatapku kaget. “Henry Miller?”Tapi kemudian dia tersadar, dia tidak seharusnya bertanya, maka dia melanjutkan pekerjaannya. Setelah wawancara selesai, aku ingin tahu kenapa dia tadi begitu kaget mendengar jawabanku. Kukatakan padanya Henry Miller mungkin bukan pengarang yang “politically correct”, tapi dia telah membukakan dunia yang amat luas padaku, buku-bukunya penuh luapan energi yang jarang ditemukan dalam karya-karya literature modern.“Saya bukan bermaksud mengkritik Henry Miller. Saya juga salah satu pengagumnya,” jawab si penerjemah. “Apakah Anda tahu dia menikah dengan seorang perempuan Jepang?”Ya, tentu saja aku tahu. Aku tidak malu mengaku sebagai penggemar fanatik seseorang, sampai-sampai aku mencoba mencaritahu segala sesuatu tentang kehidupannya. Dulu pernah aku datang ke pameran buku hanya untuk melihat Jorge Amado. Aku juga pernah naik bus selama 48 jam untuk bertemu Borges (meski akhirnya jadi kacau gara-gara kesalahanku sendiri. Ketika benar-benar berhadapan dengannya, aku cuma bisa berdiri terpaku, tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun). Aku pernah memencet bel pintu John Lennon di New York (penjaga pintu menyuruhku menitipkan surat berisi alasan kedatanganku, katanya nanti Lennon akan meneleponku, tapi dia tidak pernah menelepon). Aku pernah merencanakan pergi ke Big Sur untuk bertemu Henry Miller, tapi dia keburu meninggal sebelum aku punya cukup uang untuk perjalanan itu.“Wanita Jepang itu bernama Hoki,” aku menyahut dengan bangga. “Aku juga tahu di Tokyo ada museum yang menyimpan lukisan-lukisan cat air Henry Miller.”“Maukah Anda bertemu wanita itu malam ini?”Yang benar saja! Sudah jelas aku mau sekali bertemu orang yang pernah tinggal bersama salah satu idolaku. Dalam bayanganku, wanita itu pasti menerima banyak sekali tamu dari mana-mana, juga permintaan-permintaan untuk wawancara. Bagaimanapun, dia dan Miller pernah tinggal bersama selama hampir sepuluh tahun. Apakah tidak sulit meminta dia menyisihkan waktu untuk seorang pengagum? Tapi kalau si penerjemah mengatakan bisa, sebaiknya aku percaya saja. Orang Jepang selalu menepati janji.Sepanjang sisa hari itu aku menunggu tak sabar, lalu kami naik taksi, dan keanehan itu mulai terasa. Kami berhenti di jalan yang sepertinya tidak pernah kena sinar matahari, dengan jembatan di atas kepala. Si penerjemah menunjuk sebuah bar kelas dua di lantai dua bangunan yang sudah mulai ambruk.Kami naik tangga, masuk ke bar yang kosong melompong, dan di situlah Hoki Miller berada.Untuk menyembunyikan keterkejutanku, kucoba melebih-lebihkan kekagumanku terhadap mantan suaminya. Dia mengajakku ke sebuah ruangan kecil di belakang, yang dijadikannya semacam museum kecil---ada beberapa foto, dua atau tiga lukisan cat air yang telah ditandatangani, buku yang dipersembahkan untuknya, hanya itu. Dia menceritakan padaku, dia bertemu Miller ketika dia sedang mengambil gelar Master di Los Angeles dan untuk menghidupi diri dia bermain piano di sebuah restoran, menyanyikan lagu-lagu Prancis (dalam bahasa Jepang). Miller datang ke restoran itu untuk makan malam, menyukai lagu-lagu yang dinyanyikan (Miller pernah tinggal lama di Paris), mereka berkencan beberapa kali, kemudian Miller mengajaknya menikah.Kulihat ada piano di bar---seakan-akan dia sedang hidup di masa lalu, mengenang hari ketika mereka bertemu. Dia menceritakan berbagai hal membahagiakan dalam kehidupan mereka bersama-sama, masalah-masalah yang timbul akibat perbedaan usia (Miller sudah lebih dari 50 tahun, Hoki belum sampai 20 tahun), masa-masa kebersamaan mereka. Dia menjelaskan bahwa ahli-ahli waris dari pernikahan-pernikahan Miller sebelumnya mendapatkan segala-galanya, termasuk copyright buku-buku Miller---tapi itu tidak penting, kehidupan yang pernah dijalaninya bersama Miller tak bisa digantikan dengan uang berapa pun.Kuminta dia memainkan lagu yang telah menarik perhatian Miller bertahun-tahun silam. Dia memainkannya dengan mata berkaca-kaca, sambil menyanyikan “Autumn Leaves” (Les Feuilles Mortes).Si penerjemah dan aku ikut terharu. Bar, piano, suara wanita Jepang itu yang bergema dari tembok-tembok telanjang tanpa memedulikan kehidupan nyaman para mantan istri lainnya, uang tak terhitung banyaknya yang dihasilkan dari buku-buku Miller, ketenaran yang seharusnya bisa dia nikmati sekarang ini.“Warisan itu tidak penting, cinta sudah cukup,” katanya pada akhir cerita, karena dia mengerti apa yang kami rasakan. Ya, ketika melihat tak ada sedikit pun kepahitan atau kebencian pada dirinya, aku mengerti bahwa cinta sudah cukup baginya.

count your blessing