Memang kehidupan ini terus berlanjut dan akan berlanjut dengan atau tanpa diriku tapi menorehkan beberapa kejutan dalam kehidupan ini ....mungkin bermanfaat buatku atau buat siapa saja
Wednesday, 5 September 2012
tanggung jawab itu membutuhkan integritas dan dedikasi
Setelah berjibaku dengan jalanan Jakarta - Bekasi dan menyempatkan diri untuk sarapan, pagi ini aku terbawa dalam alunan kata yang ditulis di http://creatingwebsite-maskolis.blogspot.com/2011/03/dua-manusia-super-di-pinggir-jalan.html . Sambil duduk di depan PC di kantor, aku dapat artikel ini. Sangat menarik. Walau dengan permainan kata-kata yang didramatisir, aku tetap dengan sadar terbuai dalam setiap kata-kata dalam tulisan itu.
Tak sadar, akupun mulai memasuki tulisan itu. Emosi dalam tulisannya menyatu dalam emosiku pagi ini. Mataku pun mulai berkaca-kaca takkala tulisan ini sampai pada titik mengangkat integritas dan dedikasi dua orang penjaja tissu di jalanan Jakarta ini. Bagaimana tidak terharu, saat mereka membutuhkan uang (sangat membutuhkan uang) mereka masih tetap berpikir atas kepuasan pelanggan, kejujuran dan pelayanan yang maksimal. Amazing !!!
Kejujuran memang tema yang diangkat, tapi aku lebih melihat dedikasi dan integritas. Sekecil apapun tanggung jawab atau pekerjaan yang dibebankan kepadamu, ingatlah, tanggung jawab itu membutuhkan integritas dan dedikasi.
salam,
d'Niel
Tuesday, 24 January 2012
Menikmati
Yang terpenting adalah proses....
Hal inilah yang selalu diorasikan oleh guru Matematika dan Kimia saya sewaktu bersekolah di SMA. Di waktu kelas 2 SMA, di sebuah kota yang ada di antara bukit barisan di Sumatra Utara, saya diajarkan oleh guru Matematika saya untuk berpikir secara runtundan runut. Istilah "dik, dit, jaw" menjadi hal yang sangat dan harus dilakukan sebelum menyelesaikan pertanyaan. Begitu pula konsep "dik,dit,jaw" itu kembali ditekankan saat saya di kelas 3 dan bergumul dengan Fisika dan Kimia yang lebih rumit. Tak hanya berhenti di tingkat Menengah Atas di kota kecil, Sidikalang itu, bahkan sampai di Bandung dan Jatinangor pun, konsep itu terus melekat dalam Kalkulus.
Baru saat ini saya mengerti kenapa harus begitu. Hal yang paling saya rasakan adalah ketika metoda itu membantu saya untuk berpikir lebih analitik. Terstruktur memudahkan kita untuk mengurai permasalahan yang ada dan berkreasi untuk menyelesaikannya.
Dan yang paling akhir dari mengikuti itu adalah hasil. Tapi ada lagi hal yang unik dalam hasil ini. Entah itu baik atau buruk, hasil yang menakjubkan atau biasa saja, hasil yang menarik dan datar saja, tapi ada hal yang unik di dalammya. Yaitu bagaimana kita menikmati hasil akhir itu.
Ada satu perasaan yang tidak dimiliki oleh orang-orang yang selalu menginginkan hasil yang instan dan tidak mau terlibat banyak. Yaitu rasa menikmati hasil. Coba anda bayangkan pemgalaman anda terakhir kali anda mengerjakan sesuatu dari awal, merasakan sulit dan mudahnya pengerjaan hingga menghasilkan. Bagaimana rasanya? Adakah suatu perbedaan?
Itulah yang dinamakan "menikmati pekerjaan". Entah hasilnya standar saja bagi orang lain, tapi hasilnya "berbeda" menurut anda.
Saat ini banyak mencari "yang cepat,instan" tanpa melalui proses. Cobalah perlahan untuk melakukannya. Perlahan memang selalu mengacu pada waktu, tapi coba acukan pada berpikir secara metodologis. Kau akan menikmati setiap pemberian walaupun itu terkesan sangat sederhana.
Kebun Jeruk, 24 Januari 2012
Sunday, 1 May 2011
Senyum menciptakan kebahagiaan di sekitar kita

Senyum membuat Anda lebih menarik.
Orang yg byk tersenyum memiliki daya tarik. Orang yg suka tersenyum membuat perasaan orang disekitarnya nyaman dan senang. Orang yg selalu merengut, cemburut, mengerutkan kening, dan menyeringai membuat orang-orang disekeliling tidak nyaman..Dipastikan orang yg byk tersenyum memiliki byk teman.
Senyum mengubah perasaan
Jika Anda sedang sedih, cobalah tersenyum. Senyuman akan membuat perasaan menjadi lebih baik. Menurut penelitian, senyum bisa memperdayai tubuh sehingga perasaan berubah..
Senyum menular
Ketika seseorang tersenyum, ia akan membuat suasana menjadi lebih riang. Orang disekitar Anda pasti akan ikut tersenyum dan merasa lebih bahagia
Senyum menghilangkan stres
Stres bisa terlihat di wajah. Senyuman bisa menghilangkan mimik lelah, bosan, dan sedih.
Ketika anda stres,ambil waktu untuk tersenyum. Senyuman akan mengurangi stres dan membuat pikiran lebih jernih.
Senyum meningkatkan imunitas.
Senyum membuat sistem imun bekerja lebih baik. Fungsi imun tubuh bekerja maksimal saat seseorang merasa rileks. Menurut penelitian, flu dan batuk bisa hilang dengan senyum.
Senyum menurunkan tekanan darah
Tidak percaya? Coba Anda mencatat tekanan darah saat anda tidak tersenyum dan catat lagi tekanan darah saat anda tersenyum saat diperiksa. Tekanan darah saat Anda tersenyum pasti lebih rendah.
Senyum melepas endorphin, pemati rasa alamiah, dan serotonin
Senyum ibarat obat alami.
Senyum bisa menghasilkan endorphin,pemati rasa alamiah, dan serotonin. Ketiganya adalah hormon yg bisa mengendalikan rasa sakit.
Senyum membuat awet muda
Senyuman menggerakkan banyak otot . Akibatnya otot wajah terlatih sehingga anda tidak perlu melakukan face lift. Dijamin dengan byk tersenyum Anda akan terlihat lebih awet muda.
Senyum membuat Anda kelihatan sukses
Orang yg tersenyum terlihat lebih percaya diri,terkenal, dan bisa diandalkan. Pasang senyum saat rapat atau bertemu dengan klien. Pasti kolega Anda akan melihat Anda lebih baik.
Senyum membuat orang berpikir positif.
Coba lakukan ini : pikirkan hal buruk sambil tersenyum. Pasti susah. Penyebabnya, ketika Anda tersenyum,tubuh mengirim sinyal "hidup adalah baik". Sehingga saat tersenyum, tubuh menerimanya sebagai anugerah
Senyum menciptakan kebahagiaan di sekitar kita, Senyum adalah ketenangan bagi kegelisahan, keceriaan bagi yang kecil hati dan kegembiraan bagi yang sedih.
Senyum tidak bisa di beli, karena senyuman adalah sesuatu yang tidak berguna bagi siapapun sampai senyum itu diberikan..
Jika kalian harus menemui seseorang yang terlalu letih untuk memberimu senyuman. Berikan satu senyuman yang tulus untuk mereka. Karena tidak ada yang lebih membutuhkan senyuman daripada orang - orang yang tidak mempunyai senyuman lagi untuk deberikan..
Sebuah senyuman akan selalu diterima, karena senyuman akan membuka pintu dan hati seperti anak kunci.
Berikan setiap senyummu untuk semua orang, karena satu senyuman memberikan keceriaan pada semua orang
Sunday, 27 March 2011
Sebuah Semangat yang akan terus
Semangat adalah sebuah hal maya tapi nyata. Sulit mengungkapkan seperti apa tapi jelas-jelas itu ada. Dan semangat itu juga bisa ditularkan ke sekitarnya.
Pada suatu ketika, ternyata semangat itu juga bisa ditanam sejak awal agar bisa dipacu ulang saat sudah tua nanti. Hal ini kadang kita lihat dalam dunia spionase. Sebuah paham dapat ditanam dari awal. Akibatnya hingga tua nanti, paham itu tetap melekat erat di dalam pikiran orang tersebut.
GAMBARU!!! Itu juga ditanam sejak awal pada anak-anak di Jepang. Gambaru—secara populer diterjemahkan sebagai berjuang mati-matian sampai titik darah penghabisan, bekerja hingga batas kemampuan terakhir, atau melakukan sesuatu dengan segala daya dan upaya, bahkan yang terpahit sekalipun, untuk mencapai yang terbaik.
Itulah semangat yang ditanamkan terus menerus pada anak-anak di Jepang, hingga nanti kelak saat mereka dewasa, mereka bisa mengeluarkan semangat itu saat mereka menghadapi saat-saat yang terpahit sekalipun.
Namun, terkadang banyak hal yang bisa kita kritisi dari semangat yang konon katanya menjadi dasar terjadinya Kamikaze dan harakiri di Jepang. Semangat berjuang terus menerus itu penting, tapi untuk suatu kehidupan yang kekal.
Berjuang terus, berlari dan berlomba hingga nanti mahkota kekal sudah menantimu.
GAMBARU!!!
PRAY FOR JAPAN
Tuesday, 9 March 2010
kembali menulis

Menulis bagian dari keseharianku
Mulai menulis di pagi hari (saat teduh….itu juga klo inget), menulis di kantor..(ini mah kerjaan) dan menulis hidup ini
Yang terakhir memang agak sulit
Mencoba setia untuk tetap menulis adalah hal yang rumit. Bukan karena menulis itu susah. Tapi, karena memang dorongan di jiwa yang berawal dari pikiran, terdorong ke otak, kemudian secara bertahap mendorong imajinasi dan motorik di tangan untuk menulis.
Pena yang dipakai untuk menulis hidup di kehidupan ini juga bukan pena yang biasa aku pakai untuk menuliskan di buku. Tapi, mencoba memakai segenap tubuh, jiwa dan raga untuk menulis.
Yang menjadi perhatian adalah mencoba mengikuti pena Allah dalam kehidupan ini. Apakah tanganNya sesuai dengan tubuhku untuk menggoreskan sesuatu?
Ingin rasanya lepas mengikuti indahnya gerakan tanganNya, tapi memang tubuh ini selalu membangkang….
Sunday, 18 October 2009
ditopang
lenyap serta merta
dan beban yang kupikul
tak jatuh segera
kendati demikian
bertambah dayaku
sebab pengasihanNya
menopang hidupku
Thursday, 30 July 2009
mumpung
kata ini banyak sekali digunakan oleh orang-orang yang lagi berada di atas angin. Mungkin dia lagi tenar, atau lagi on high, atau lagi masa-masa emas atau di masa-masa produktif.
Aku mengartikan mumpung itu "selagi bisa".
Selagi bisa begini, mending begitu dilakuin juga.
Mumpung memang kata-kata yang cenderung negatif. Apalagi klo dirangkaikan dengan kata "aji". Klo aji mumpung mah ini biasanya artis-artis yang lagi tenar.
Walau terkesan negatif, aku dapat suatu hal ttg mumpung ini.
Tentang memanfaatkan waktu saat-saat senggang. Kalau biasanya mumpung itu dirangkaian dalam jalur kereta yang baik, bagaimana halnya jika mumpung itu dalam rangkaian gerbong kereta buruk?
Misalnya sedang menunggu. Khan kata orang menunggu itu tidak menyenangkan. Apakah pernah kita pakai kata mumpung? Biasanya untuk menunggu, dipakai kata "membunuh" sepi. Padahal esensinya sama saja...
Beranikah kau untuk memakai MUMPUNG dalam rangkaian negatif?
Mumpung lagi menunggu, aku harus melakukan sesuatu yang baik..
denpasar, 30 Juli 2009
Mumpung sedang menunggu
Saturday, 11 April 2009
Terbang cepat
Terbang cepat dibawa pergi oleh nafsu
Saat raga telah terkungkung
Saat tubuh mulai terbelenggu oleh rantai jahanam
Aku ingin lepas tapi aku tak kunjung bebas
Kuserahkan kefanaan ini pada api yang menyala
Sudah kuletakkan ini pada kaki-kaki dian
Tapi semuanya gelap tak terbenderangi
Allah adalah benar dan semua manusia pembohong
Thursday, 8 January 2009
Yang anak bisa lakukan …..

Sudah setahun lebih bapakku meninggal. Rasa kehilangan itu memang sudah tak terasa, tapi sewaktu pulang liburan natal dan tahun baru ke Sidikalang, rasa kehilangan itu muncul kembali. Kalau dalam perumpamaan mama, kehilangan itu digambarkan layaknya ayam yang sedang terseok-seok. Tidak ada panduan dan tak tahu kemana.
Sangat sedih mendengar pengakuan itu. Jujur tapi menyakitkan. Seakan menamparku sebagai anak, ”kenapa seorang ibu sampai bisa mengungkapkan itu?”
Apakah kehadiran anaknya tidak mampu untuk tetap membuat dia untuk bertahan dan mempunyai alasan untuk tetap melangkah?

Awal pemikiran yang sukit memang. Tapi, aku bersyukur bisa mengetahui itu. Komunikasi yang jujur antara anak dan ibu memang sudah terlalu jarang di jaman-jaman sekarang ini. Padahal itu hal yang teramat amat penting. Dimana anak juga harus tahu apa yang ibu sedang rasakan. Tidak semata-mata, ibu yang harus tahu kondisi anaknya.
Bagiku komunikasi itu dimana keduanya saling mengerti dan memahami. Bagaikan pendidikan, pengetahuan itu tidak semata-mata berhenti saat guru sudah menyampaikan pengetahuannya. Tapi masih terus berlanjut hingga si murid mengerti da memahami pengetahuan itu sendiri.
Memang tulisan ini tidak dalam konteks Hari Ibu, tapi sebagai seruan buat anak untuk tetap mau peduli dan mau berupaya untuk mengerti dan memahami apa yang Ibu sedang rasakan.

Friday, 26 September 2008
Mencoba agar mengkilap....
Wednesday, 10 September 2008
terasa ingin
pada awalnya aku berpikir bahwa doa kami terjawab sedikit. Tapi, kalau dipikir-pikir
apakah manusia sampai mampu mengukur kekuatan TUhan?
Doa kami untuk abangku yang sulung sudah mulai dijawab Tuhan. Beberapa perubahan sudah terjadi. Ada banyak masalah yang dia sebabjan akhir-akhir ini.
Semua pekerjaannya tak pernah berhasil dia selesaikan. Padahal dia ingin membuktikan
klo dia mampu untuk mengerjakan sesuatu dengan mandiri.
Tapi, semuanya itu ga pernah berhasil. Malah berbuntut menjerumuskan mama.
Sungguh sangat keterlaluan di saat mama yang sudah semakin tua, ditambah beban dari dia lagi.
Apa yang membuat dia tega untuk melakukan hal itu?Apakah memang itu semua diluar kemampuan dia? Apa itu semua tidak sanggup dia atasi dengan bertanggung jawab?
Jujur aku marah. Dan memang aku berang. Orang seperti apa dia itu sebenarnya? Aku juga tidak tahu dan tak ingin kumengerti oleh karenanya.
Tapi................lupakanlah.
Mama memberitahu bahwa dia sudah mulai berusaha untuk mengangkat mama dari jerumus dan jurang yang sudah dia buatkan. Dia mulai mengangkat Mama. Sebuah upaya yang melegakan hati. Usaha yang membuat aku berseangat.
"Tuhan mendengar doa kita, Ma." Hanya kata itu yang dapat aku ungkapkan saat Mama menceritakan hal itu....
TUhan mendengar doa kita.
Friday, 25 April 2008
peganglah apa yang ada
Sermon pemuda HKBP Cakung....Makin lama kayanya makin sedikit anak-anaknya.
Ada apa yh?Mungkin karena udah ga bersemangat lagi kale yh....what everlah....
kami membahas tentang "memegang apa yang ada, agar mahkota kita tidak lepas"
sepertinya ada kontrakdiksi pada firman ini
koq tidak dikatakan "memegang mahkota agar mahkota kita ga lepas" yh?
dalam pemahamanku ternyata memang apa yg ada dalam diri kita itu terbatas
Allah tahu kita ini terbatas
tapi kesetiaan dalam menaati dan berusaha untuk tidak menyangkal Dia akan mengubah "yang ada" itu menjadi "mahkota"
klo disejajarkan dengan pengharapan, itulah pengharapan itu....
pengharapan itu akan apa yang melampaui apa yang ada sejak awal tentunya
berharap itu dalam interval waktu dimana harapan itu belum terealisasi
atau dengan kata lain: "menunggu"
dalam proses menunggu itulah apa kita masih taat atau masih berjuang untuk itu
klo dipikir-pikir relevansinya apa sama sermon yang makin lama "penduduk"nya makin sedikit yh?
mungkin karena kaminya juga yh.....
Monday, 21 April 2008
Pelihara suluh pantai walau hanya k'lip kelap

Sebuah lagu yang menyemangatiku di saat2 mengingat tubuh yg lemah
dan semangat yg hanya "klip klap" ini
.....................................................................................................................
Mercu Suar Kasih Bapa(Nyanyikanlah Kidung Baru 206)
"Hendaklah ... pelitamu tetap bernyala" (Lukas 12:35)
(1)
Mercu suar kasih Bapa memancarkan sinarNya.
Namun suluh yang dipantai,kitalah penjaganya.
Reff:
Pelihara suluh pantai walau hanya k'lip kelap.
Agar tiada orang hilang di lautan yang gelap.
(2)
Malam dosa sudah turun,ombak dahsyat menyerang.
Banyaklah pelaut mengharap sinar suluh yang terang.
(3)
Peliharalah suluhmu, agar orang yang cemas,
yang mencari pelabuhan,dari mara terlepas.
--------------------------------------------------------------------------------
Syair dan lagu: Let the Lower Lights Be Burning, Philip P.Bliss (1838-1876), terj. E.L. Pohan (1917-1993)
Sejarah Lagu "Mari Barangsiapa Mau"Syair : Whosoever Will May Come, "philip P. Bliss, 1869. Wahyu 22:17.
Lagu : WHOSOEVER, Philip P. Bliss, 1869.
Pada umur sepuluh tahun, Philip P. Bliss belum pernah melihat sebuah piano.
Mungkin Saudara heran atas kalimat itu: Bukankah siapa saja telah melihat sebuah piano serta mendengar bunyinya?
Bagi penduduk kota, mungkin benar. Tetapi banyak rakyat Indonesia yang belum pernah melihat sebuah piano. Demikian juga dengan si Philip. Walaupun ia sudah mendengar ibunya bercerita tentang alat musik besar yang disebut piano, namun ia sendiri belum pernah melihatnya ataupun mendengar bunyinya.
Anak yang Miskin
Philip P. Bliss lahir pada tahun 1838 di sebuah pondok kayu, di daerah pertanian yang agak terpencil, negara bagian Pennsylvania, Amerika Serikat. Keluarganya miskin sekali. Mereka bekerja keras, namun masih sering kekurangan.
Walaupun demikian, keluarga Bliss itu amat suka akan musik. Sering mereka bernyanyi bersama-sama. Pada waktu ayahnya menyadari bahwa si Philip memiliki kegemaran akan musik yang melebihi yang lainnya, ia pergi ke rawa dan memotong sebatang buluh. Dengan pisau raut ia mengukir sebuah suling kasar untuk putranya yang masih kecil.
Philip senang sekali meniup sulingnya. Ia pun mulai menyimpan uangnya yang sangat sedikit, dengan harapan bahwa pada suatu waktu kelak ia akan dapat membeli sebuah biola yang murah.
Musik yang Indah
Ketika si Philip berumur sepuluh tahun, timbullah dalam benaknya akal yang baik. la pergi sekeliling rawa-rawa dan memetik semacam murbei liar yang tumbuh di situ. Ketika keranjangnya penuh, ia pun berjalan kaki melalui jalan yang panas dan berdebu, menuju ke kota. Pakaiannya compang camping, kakinya telanjang. Kian kemari ia menyusuri lorong dan jalan kota, sambil menjajakan buah dagangannya itu. Siapa tahu, mungkin akhirnya ia akan mempunyai cukup banyak uang untuk pembeli sebuah biola.
Tiba-tiba anak laki-laki itu berhenti. Sayup-sayup terdengar musik yang indah sekali...musik yang belum pernah didengarnya. Apakah gerangan itu bunyi piano, alat musik besar yang telah diceritakan oleh ibunya?
Selangkah demi selangkah ia berjalan lebih dekat. Sampailah dia di serambi muka rumah sumber suara yang indah itu. Philip meletakkan keranjang buahnya di lantai. Dengan malu-malu ia pun mendekat lagi.
Pintu rumah itu kebetulan terbuka. Dengan menahan nafasnya, anak petani yang gemar akan musik itu masuk dan berdiri terpaku, mendengar not-not yang begitu indah.
Tiba-tiba wanita yang sedang memainkan piano itu melihat dia. Secara mendadak ia membanting jarinya ke atas tuts piano dengan bunyi yang keras dan janggal. Ia menatap anak laki-laki yang kotor, berpakaian jelek, yang sedang berdiri di pintunya.
Philip Bliss mengeluh dengan kerinduan: "Maaf, silakan nyonya main terus. Belum pernah kudengar musik yang seindah itu."
"Tidak!" bentak wanita itu. "Apa maksudmu, diam-diam masuk ke mari, he? Lihat, bekas kakimu mengotori serambiku. Ayo, pergi!"
Dengan sedih si Philip mengambil keranjangnya dan pergi. Seandainya diizinkan, tentu ia akan berdiri tenang di situ sepanjang hari, asal saja ia dapat mendengar terus suara piano.
Petani Merangkap Pendidik
Pada umur sebelas tahun, Philip Bliss sudah keluar dari rumah ibu bapaknya untuk mencari nafkah sendiri. Ia menjadi seorang buruh di perkebunan, lalu di kehutanan dan di penggergajian kayu.
Sekali-sekali anak yang pandai itu diberi izin pergi ke sekolah untuk sementara waktu. Kesempatan seperti itu selalu disambutnya dengan gembira, juga kalau ada kesempatan pergi ke gereja.
Pada umur duabelas tahun Philip mengaku percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Ia pun dibaptiskan atas dasar imannya itu.
Ketika ia hanya mencapai umur 18 tahun, Philip Bliss dianggap sudah cukup terpelajar, meski bersekolah secara terputus-putus, sehingga ia sanggup menerima jabatan sebagai guru sekolah desa. Tugas mengajar itu hanya selama musim salju saja; kalau dalam pergantian musim datang lagi cuaca yang baik, terpaksa dia menambah penghasilannya yang sedikit, dengan bekerja keras di ladang.
Nenek yang Baik Hati
Pada umur 20 tahun, Philip Bliss mulai berkenalan dengan seorang gadis dari sebuah keluarga di daerah pertanian tempat ia menjadi guru. Baik Lucy Young maupun keluarganya menyukai pemuda yang rajin itu. Mereka pun suka akan musik, sama seperti Philip sendiri; jadi, mereka mendorong dia untuk memperkembangkan bakatnya.
Pada tahun 1859 Philip Bliss menikah dengan Lucy Young. Selanjutnya suami yang baru berumur 21 tahun itu bekerja di perkebunan milik bapak mertuanya.
Lalu ia mendengar bahwa ada kursus musik yang ditawarkan kepada para peminat. Tempat penyelenggaraannya tidak jauh dari rumah keluarga Young dan keluarga Bliss. Tetapi soalnya, keuangan Philip Bliss masih terbatas, sehingga tak mungkin ia mendaftarkan diri untuk kursus tersebut.
Ketika ia insaf akan hal itu, Philip merasa kecewa dan kesal hati. Ia masuk ke dalam rumah dan merebahkan diri pada sebuah balai-balai. Sudah nasib, seumur hidup ia hanya akan sempat menjadi seorang petani dan guru sekolah desa saja.
Kebetulan nenek istrinya melihat Philip dalam keadaan putus asa itu. Wanita yang sudah lanjut usianya itu menanyakan apa sebabnya. Ia diberitahu bahwa paling sedikit 30 dolar diperlukan, jika Philip akan memanfaatkan kesempatan yang luar biasa itu.
"Astaga, 30 dolar 'kan banyak sekali!" kata nenek itu. "Tetapi nenek punya kaus kaki bekas yang sudah lama dipakai sebagai tempat tabungan. Coba lihat, andaikan ada sebanyak 30 dolar di dalamnya ... ya, ambillah saja!"
Dengan bantuan dan dorongan yang tak diharapkan itu, Philip Bliss jadi pergi. Bukan hanya kursus musik itu saja, melainkan juga kursus-kursus lainnya yang serupa ia hadiri, sehingga kecakapannya di bidang musik semakin berkembang.
Kuda Tua dan Orgel Kecil
Pada tahun 1860 Philip Bliss sudah merasa siap memulai suatu karier baru, yaitu sebagai guru musik yang berkelana. Berkat bantuan keluarga istrinya, ia memiliki seekor kuda betina yang sudah tua, dan sebuah orgel lipat kecil yang murah. Pergilah dia berkeliling, sambil mengajar banyak murid tentang dasar seni musik.
Sementara itu, Philip Bliss masih tetap menggunakan tiap kesempatan untuk meningkatkan keahliannya sendiri. Lambat laun ia pun mulai mengarang musik. Pada tahun 1864 ia memberanikan diri mengirim sebuah lagu romantis hasil karyanya kepada sebuah penerbit besar. Permintaannya, andaikan karangan itu diterima, adalah lain daripada yang lain. Ia minta bukan uang, melainkan sebatang suling yang bagus.
Seorang redaktur menerima lagu yang disertai permohonan aneh itu. Kemudian sebatang suling memang dikirim kepada pencipta lagu tersebut. Tetapi lebih daripada itu, menyusullah suatu tawaran agar Philip Bliss menerima jabatan tetap di kantor penerbit musik itu.
Maka nama Philip P. Bliss menjadi tenar. Ia lalu mulai menggubah lagu-lagu rohani. Ia pun mulai memimpin nyanyian sidang dalam kampanye penginjilan raksasa, seperti yang diselenggarakan masa kini oleh Dr. Billy Graham dan orang-orang lain.
Philip Bliss berperawakan tinggi dan tampan. Suaranya merdu sekali. Sering dalam kampanye besar-besaran ia pun memperkenalkan kepada orang banyak sebuah nyanyian pujian yang baru saja dikarangnya sendiri.
Maka ia menjadi terkenal. Uang hasil penjualan lagu-lagunya masuk terus. Ia dengan istrinya dan anak-anak mereka dapat hidup senang. Namun Philip Bliss tidaklah mementingkan kekayaan atau kenamaan. Makin lama makin giat dia melayani Tuhan Yesus, sehingga ia menjadi salah seorang penyanyi injili yang paling disayangi oleh umat Kristen pada masanya.
Pengaruh Tujuh Khotbah
Akhir cerita yang dahsyat dari riwayat Philip dan Lucy Bliss itu diceritakan pada pasal 14 dari JILID 2 dalam seri buku ini: Kedua-duanya meninggal seketika dalam suatu kecelakaan kereta api pada tahun 1876.
Sungguh menyedihkan, bahwa karier Philip Bliss terhenti pada waktu ia baru berumur 38 tahun saja. Namun ia seolah-olah masih hidup juga, melalui banyak lagu injili yang kini dinyanyikan di seluruh dunia.
Semasa hidupnya, Philip Bliss sering mendapatkan buah pikiran untuk karangannya dari bacaan Alkitab dan lukisan khotbah yang didengarnya dalam kampanye penginjilan. Misalnya, lihat saja lagu yang tertera di halaman 77. Perhatikanlah kata-kata yang ditutup dalam tanda kutip: "Barangsiapa mendengar," dan "Mari barangsiapa mau." Kata-kata itu memang dikutip dari Wahyu 22:17.
Ada juga pengaruh lainnya dalam penciptaan "Lagu bagi Siapa Saja" itu. Pada tahun 1869-1870, datang ke Amerika seorang pengkhotbah muda yang terkenal di Inggris, tanah airnya. Ia pun ingin menggantikan pengkhotbah tersohor Dwight L. Moody, selama satu minggu di kota Chicago. D. L. Moody agak segan, tetapi akhirnya ia setuju.
Anehnya, pengkhotbah muda dari Inggris itu menggunakan nas khotbah yang sama selama tujuh malam berturut-turut. Ayat yang diulang-ulanginya yaitu: Yohanes 3:16.
Tujuh khotbah yang didengar oleh banyak orang itu sangat mempengaruhi baik Dwight L. Moody maupun Philip P. Bliss. Segera terciptalah "Lagu bagi Siapa Saja," yang berkisar pada pokok yang sama seperti yang ditekankan dalam Yohanes 3:16.
Mungkin juga Philip Bliss masih ingat akan pengalamannya sendiri sewaktu ia masih kanak-kanak...ketika wanita yang kurang ramah itu mengusir dia dari rumahnya. Pemain piano yang sombong itu tidak mau menerima seorang anak kecil yang miskin, berpakaian compang camping, kakinya kotor tak bersepatu, walau anak itu membujuk dia dengan sangat agar terus memperdengarkan musik yang indah.
Alangkah bedanya Tuhan Yesus! Ia rela menyambut siapa saja yang bertobat dan percaya. Berita Baik itulah yang berkumandang terus dalam nyanyian pujian hasil karya Philip P. Bliss.
Author : H.L. Cermat
Sumber : Riwayat Lagu Pilihan dari Nyanyian Pujian, Jilid 1® Lembaga Literatur Baptis
