Memang kehidupan ini terus berlanjut dan akan berlanjut dengan atau tanpa diriku tapi menorehkan beberapa kejutan dalam kehidupan ini ....mungkin bermanfaat buatku atau buat siapa saja
Thursday, 18 September 2014
Lima
Monday, 15 September 2014
Terus berjalan
Tuesday, 29 April 2014
Berkendara menuju Harapan
Sunday, 31 March 2013
Ditantang
Tantangan adalah sesuatu yang aksi yang menimbulkan 2 kemungkinan reaksi dari si penerima aksi tersebut. Jika dia reaksinya positif, orang tersebut akan semakin bertumbuh dan berkembang menjadi seorang yang tangguh dan siap menghadapi. Tantangan tersebut membuat dia semakin diasah sehingga hasilnya adalah sebuah keindahan. Bayangakn proses pembuatan sebuah cangkir dari tanah liat. Dari awal ditempa, dibakar dan diremukkan, tapi akhirnya sebuah cangkir yang indah. Sebuah reaksi positif yang kita keluarkan dari menghadapi sebuah tantangan akan mengasilkan buah.
Tapi bagaimana jika reaksinya negatif? Saat terima tantangan, kita jadi takut, putus asa, hilang fokus bahkan terikut dengan tantangan itu. Bersatu dalam sebuah tantangan menjadi hancur? Ingat bagaimana respon atau reaksi kita menentukan kita akan ke depannya seperti apa. Akan berakhir indah atau sebaliknya hancur.
Sunday, 28 October 2012
Pemimpin yang membebaskan
Siapa yang tidak merindukan seorang pemimpin yang menjadi teladan? Siapa yang tidak ingin dipimpin oleh seorang yang bisa mengayomi dan mempersatukan semua anggotanya? Siapa yang tidak ingin merasakan kegembiraan bersama dengan para pemimpunnya?
Semua ingin bersama dan bergaul akrab dengan pemimpinnya. Menjadi bagian yang utuh antara pemimpin dan anak buah. Sinergi dalam satu perasaan. Bahagia bersama dan sedih bersama.
Tapi, siapakah pemimpin yang seperti itu? Apakah sangat sulit untuk mencarinya? Apakah mustahil untuk menemukannya?
Susah, tapi mungkin....Pasti ada...Sejarah mengatakn pemimpin seperti itu ada. Ingat presiden Chili yang ikut "berjuang" untuk menyelamatkan pekerja tambangnya? Atau sejarah lain yang menunjukkan kisah pemimpin yang membebaskan? Bukan bebas secara fisik saja, tapi juga bebas secara hati dan jiwa. Saat pemimpin ada bersama pengikutnya, entah itu kejadian suka maupun duka, saat itulah dia sudah membebaskan pengikutnya...
CAKUNG, 28 Oktober 2012
Selamat sumpah pemuda
Wednesday, 5 September 2012
tanggung jawab itu membutuhkan integritas dan dedikasi
Setelah berjibaku dengan jalanan Jakarta - Bekasi dan menyempatkan diri untuk sarapan, pagi ini aku terbawa dalam alunan kata yang ditulis di http://creatingwebsite-maskolis.blogspot.com/2011/03/dua-manusia-super-di-pinggir-jalan.html . Sambil duduk di depan PC di kantor, aku dapat artikel ini. Sangat menarik. Walau dengan permainan kata-kata yang didramatisir, aku tetap dengan sadar terbuai dalam setiap kata-kata dalam tulisan itu.
Tak sadar, akupun mulai memasuki tulisan itu. Emosi dalam tulisannya menyatu dalam emosiku pagi ini. Mataku pun mulai berkaca-kaca takkala tulisan ini sampai pada titik mengangkat integritas dan dedikasi dua orang penjaja tissu di jalanan Jakarta ini. Bagaimana tidak terharu, saat mereka membutuhkan uang (sangat membutuhkan uang) mereka masih tetap berpikir atas kepuasan pelanggan, kejujuran dan pelayanan yang maksimal. Amazing !!!
Kejujuran memang tema yang diangkat, tapi aku lebih melihat dedikasi dan integritas. Sekecil apapun tanggung jawab atau pekerjaan yang dibebankan kepadamu, ingatlah, tanggung jawab itu membutuhkan integritas dan dedikasi.
salam,
d'Niel
Tuesday, 22 May 2012
Karena Tuhan
Cipt : Daniel A Nababan
C=do,4/4 (terinspirasi dari II Korintus 1:7)
C Am7
Dipertemukan, dan dikumpulkan
Dm7 Dm7/G G
Dipersatukan dalam sebuah keluarga Tuhan
C Am7
Kaulah temanku, engkau saudaraku
Dm7 Dm7/G G
karena Kristus kita satu dan menjadi keluarga
Bridge :
Em Am9
walau kita saling berbeda
Em Dm7 G
walau kita tak slalu bersama di dunia ini
Reff :
F G Em A7
tapi Dia 'kan memperlengkapi s'tiap kita
Dm7 G7 C Gm C7
tuk menjadi bagian dari k'luarga sejati
F G Em
dan kasihNya biarkan s'lalu mengalir
A7 Dm7 G7 C
dan menjadi dasar kita 'tuk melayaniNya bersama
Renungan:
Semoga jadi berkat
d'Niel 28102006
Thursday, 17 November 2011
Haruskah patah?
Akh...aku muak jika pikiranku ini terus berontak..
Diamlah sejenak, aku butuh ruang
Hembuskan aku angin wahai udara
biar nafas yang bergebu ini menjadi tenang
Mengikuti detakan jantungku
Semua buah pikiranku seaakan terbentur oleh batu cadas ego
Hai kau yang berbicara di atas sana...
Turun....hentikan semua suntikan palsumu
Walau aku tidak tahu banyak tapi aku tahu
Aku tahu itu salah....walau tak kutahu seberapa salah...
......
Aku mau berhenti bertentang dengan saya
Itu kuk bagiku...Kenapa jadi aku yang membentuk bebanku sendiri
.........
#hela nafas sejenak...berdiam diri dan berbicaralah dengan Nya
.........
Dia yang memberi, Dia yang mengambil
Dia yang mempercayakan, Dia yang meminta tanggung jawab
Dia yang Mahakuasa dan Dia yang Mahaberkendak
Syukur aku mengingat sebuah kata yang berdasar kokoh
Jangan kehendakku yang jadi, tapi kehendakMu-lah
Jakarta, 17 November 2011
di belakang piano di sebuah gereja
Friday, 29 April 2011
Sampai berapakah cukup itu?
Sebuah tulisan yang saya dapat...Memang benar, cukup itu bukan berbicara tentang kuantitas, tapi rasa syukur...
Ada Cerita, seorang petani menemukan sebuah mata air ajaib. Mata air itu bisa mengeluarkan kepingan uang emas yang tak terhingga banyaknya.Mata air itu bisa membuat si petani menjadi kaya raya seberapapun yang diinginkannya, sebab kucuran uang emas itu baru akan berhenti bila si
petani mengucapkan kata "cukup".
Seketika si petani terperangah melihat kepingan uang emas berjatuhan di depan hidungnya. Diambilnya beberapa ember untuk menampung uang kaget itu. Setelah semuanya penuh, dibawanya ke gubug mungilnya untuk disimpan disana. Kucuran uang terus mengalir sementara si petani mengisi semua karungnya, seluruh tempayannya, bahkan mengisi penuh rumahnya. Masih kurang! Dia menggali sebuah lubang besar untuk menimbun emasnya. Belum cukup, dia membiarkan mata air itu terus mengalir hingga akhirnya petani itu mati tertimbun bersama ketamakannya karena dia tak pernah bisa berkata
cukup.
Kata yang paling sulit diucapkan oleh manusia barangkali adalah kata "cukup". Kapankah kita bisa berkata cukup?
Hampir semua pegawai merasa gajinya belum bisa dikatakan sepadan dengan kerja kerasnya.
Pengusaha hampir selalu merasa pendapatan perusahaannya masih dibawah target.
Istri mengeluh suaminya kurang perhatian. Suami berpendapat istrinya kurang pengertian. Anak-anak menganggap orang tuanya kurang murah hati. Semua merasa kurang dan kurang. Kapankah kita bisa berkata cukup?
Cukup bukanlah soal berapa jumlahnya.
Cukup adalah persoalan kepuasan hati. Cukup hanya bisa diucapkan oleh orang yang bisa mensyukuri.Tak perlu takut berkata cukup. Mengucapkan kata cukup bukan berarti kita berhenti berusaha dan berkarya.
"Cukup" jangan diartikan sebagai kondisi stagnasi, mandeg dan berpuas diri. Mengucapkan kata cukup membuat kita melihat apa yang telah kita terima, bukan apa yang belum kita dapatkan. Jangan biarkan kerakusan manusia membuat kita sulit berkata cukup.
Belajarlah mencukupkan diri dengan apa yang ada pada diri kita hari ini, maka kita akan menjadi manusia yang berbahagia. Belajarlah untuk berkata "Cukup"
Sunday, 3 April 2011
hanya satu tidak bisa ....

Angin malam terasa menusuk sampai ke tulang
Bukan saja membuat nyeri, tapi cengkraman udara ini membuatku sakit
Ingin rasanya cepat pergi dari tempat ini
Ke sebuah tempat hangat, teduh dan tentram
di persimpangan antara nyawa, roh, raga dan asa
Tapi tidak bisa...oh mungkin belum saatnya lebih tepatnya
Harus benar menyadari aku harus menyediakan waktu untuk dia
Menunggu tidaklah akan menjadi bosa jika kita menyadari kenapa harus melakukan itu
Aku disini menanti dia yang kuharapkan datang
Diapun datang...Siap dengan satu sayap yang melekat di tubuhnya
Dan di tubuhku, aku pun memiliki satu sayap yang siap untuk dikibaskan
Untuk terbang pergi ke tempat tinggi itu, kami butuh dua sayap
satu darinya dan satu dariku
dengan dia dan dengan dua, kami bisa melayang
Menuju tempat tinggi ke tahapan yang selanjutnya
Aku harus menunggu, kami harus bersama agar kami bisa melayang
dari sebuah hadiah kasih sayang berupa sayap
Sunday, 27 March 2011
Sebuah Semangat yang akan terus
Semangat adalah sebuah hal maya tapi nyata. Sulit mengungkapkan seperti apa tapi jelas-jelas itu ada. Dan semangat itu juga bisa ditularkan ke sekitarnya.
Pada suatu ketika, ternyata semangat itu juga bisa ditanam sejak awal agar bisa dipacu ulang saat sudah tua nanti. Hal ini kadang kita lihat dalam dunia spionase. Sebuah paham dapat ditanam dari awal. Akibatnya hingga tua nanti, paham itu tetap melekat erat di dalam pikiran orang tersebut.
GAMBARU!!! Itu juga ditanam sejak awal pada anak-anak di Jepang. Gambaru—secara populer diterjemahkan sebagai berjuang mati-matian sampai titik darah penghabisan, bekerja hingga batas kemampuan terakhir, atau melakukan sesuatu dengan segala daya dan upaya, bahkan yang terpahit sekalipun, untuk mencapai yang terbaik.
Itulah semangat yang ditanamkan terus menerus pada anak-anak di Jepang, hingga nanti kelak saat mereka dewasa, mereka bisa mengeluarkan semangat itu saat mereka menghadapi saat-saat yang terpahit sekalipun.
Namun, terkadang banyak hal yang bisa kita kritisi dari semangat yang konon katanya menjadi dasar terjadinya Kamikaze dan harakiri di Jepang. Semangat berjuang terus menerus itu penting, tapi untuk suatu kehidupan yang kekal.
Berjuang terus, berlari dan berlomba hingga nanti mahkota kekal sudah menantimu.
GAMBARU!!!
PRAY FOR JAPAN
Sunday, 10 October 2010
Jangan dilumpuhkan kesedihan

Kesedihan adalah bagian yang tidak terelakkan dalam hidup. Kita tidak dapat memutuskan untuk tidak bersedih, karena memang "ada waktu untuk menangis" (Pkh. 3:4). Namun kita dapat memutuskan bahwa kesedihan tidak sampai melumpuhkan kita.
Kematian Absalom melahirkan kepedihan yang begitu dalam di hati Daud (18:33). Sedemikian berdukanya Daud sehingga tentaranya yang pulang dari medan perang masuk kota diam-diam, seperti baru saja kalah perang (19:3). Padahal tentara yang menang perang biasanya akan disambut dengan sorak sorai oleh warga kota. Sungguh ironis.
Mengapa Daud begitu sedih? Karena Daud hanya terfokus pada fakta bahwa Absalom, anaknya, mati. Ia tidak melihat sisi lain, yaitu realitas bahwa Absalom adalah pemberontak dan pengkhianat, yang ingin merebut takhta ayahnya sendiri. Daud juga begitu bersedih karena dia tahu bahwa kematian anaknya merupakan bagian dari hukuman Allah terhadap dia karena telah berzinah dengan Batsyeba dan kemudian membunuh suaminya, Uria. Daud tentu masih ingat perkataan nabi Natan, "Pedang tidak akan menyingkir dari keturunanmu sampai selamanya" (2Sam. 12:9-10).
Memperhatikan hal itu, Yoab menegur Daud dengan keras, karena kesedihan Daud berarti mempermalukan orang-orang yang telah menyelamatkan nyawanya. Padahal mereka sendiri mempertaruhkan nyawa mereka untuk membela Daud. Teguran Yoab menyadarkan Daud untuk bangkit dari kedukaan (19:8). Daud harus mengendalikan diri karena dia adalah pemimpin. Banyak hal yang harus diatur dan banyak orang yang membutuhkan kepemimpinannya (8).
Bersedih adalah sesuatu yang normal, yang mungkin dialami oleh setiap orang. Namun membiarkan diri dilanda kesedihan dapat melumpuhkan kita sehingga kita kehilangan kesempatan untuk melihat bahwa Allah, di dalam kasih karunia-Nya, berkenan mengangkat kesedihan kita. Ia juga akan mengaruniakan penghiburan yang menguatkan kita.
Saturday, 31 July 2010
सेमुआ बैक

"All is well....all is well"
Sebuah mantra yang diucapkan Rancho dalam film "3 idiot". Menarik sekali mantra ini karena berhasil membuat seorang bayi bergerak aktif menunjukkan tanda kehidupan setelah mengalami proses persalinan yang dramatis. Bukan sekedar itu saja, mantra itu juga dapat membuat perasaan galau menjadi tenang.
Bagian terakhir adalah hal yang sering aku alami dan cukup manusiawi aku pikir. Pernahkah anda merasa khawatir?
Pernahkah anda merasa sesuatu tidak berjalan sesuai dengan rencan anda?
Seakan anda tertekan untuk mencapainya tapi pada akhirnya tidak setitikpun tercapai?
Mungkin pernah atau pasti pernah? AKu tidak bisa menduga tentang bagaimana kisah kalian tapi kisahku pasti pernah. Dan sering sekali terjadi.
Biasanya respon yang kulakukan saat terjadi seperti itu adalah marah. Kemudian kesal. Lagi mulai melakukan sesuatu yang tidak seharusnya kulakukan. Mulai bersumpah serapah...Mulai mendongkol dan bahkan cenderung destruktif.
Tapi apa yang akan terjadi jika mencoba mantra itu? "All is well"...Semua baik...semua baik....
Kekuatan "mantra" ini adalah perasaan berserah penuh. Itu yang menjadi pelajaran berharga buatku dari "mantra" ini. Berserah penuh....Saat kau menyerahkan semuanya dengan penuh, tidak ada lagi dan tidak sepantasnya lagi si kekhawatiran itu hinggap di benakmu. Menyerahkan semuanya berarti semuanya sudah engkau percayakan.
,,,semua baik..semua baik..apa yang tlah Kau perbuat di dalam hidupku,,,
Friday, 9 April 2010
tuntunlah aku

Pagi ini aku disuguhi dengan pemandangan menarik. Sebuah kota yang dahulunya bukit dan pegunungan sekarang sudah dikeruk dan sekarang sedikit datar. Kenapa sedikit datar karena kontur jalannya masih tetap saja naik turun lembah. Yang duduk di kursi penumpang saja lelah apalagi pengemudinya. Untung aku merasakan bagaimana mengemudi di daerah yang terkenal dengan wisata bahari dan ikan-ikannya.
Sudah cukup tentang kota ini, mari kita kembali ke pemandangan yang indah di padi ini. Aku beri tema "tangan yang mengharap tuntunan dan kerelaan menuntun."
Aku melihat seorang ibu menuntun anaknya. Hal yang biasa...Tentu saja, tapi bagaimana kalau kamu melihat dari atas? (Semoga karena bukan ke"lebay"anku...sesuai dengan kamus sekarang yah aku bisa menangkap rasa yang luar biasa disana.)
Tangan itu ingin dituntun dan dia bukan hanya menuntun tapi juga memandunya. Membimbing dan melindungi hingga sampai anak itu sampai pada tujuannya. Memang tujuan utama si ibu adalah untuk mengantarnya. (Pastilah yah...), tapi bagaimana dia melakukan itu dan karena apa, itulah menjadi titik yang membuatku tertarik. Aku rasakan keinginan dan totalitas si ibu dalam menuntun anak itu. Anak itu hanya tahu dia dituntun ibunya untuk pergi ke sekolah, tapi apa yang ibunya lakukan? Dia tidak hanya menunaikan tugas dan tanggung jawabnya tapi dia beri lebih. Dalam bahasa Marketing itu disebut added value. Ada nilai tambahnya saudara-saudara....Hehe
Inilah yang menjadi refleksiku hari ini. Mungkin dia sudah melakukan dan menunaikan tugasnya, tapi dia memberi benih kekekalan disana. Bagaimana dia sedang merajut relasi yang lebih dalam lagi untuk masa depannya dan keluarganya. Tanpa dia menyadari hal itu, mungkin saja dia tidak menuntun anaknya seperti itu.
Manado, 09 Maret 2010
Monday, 5 April 2010
walau kau ragu kelak akan diberi kuasa
Apa yang membuat seorang penakut bisa tegar menghadapi setiap apa yang di depannya?
Apa yang membuat seorang yang khawatir menjadi lebih tenang menjalani kehidupannya?
Dua diantaranya adalah Kuasa dan Penyertaan. Tapi keduanya itu berdampak penuh jika keduanya itu berasal dari Allah semata.
Ketika murid-murid Yesus terguncang oleh karena kematianNya seakan iman dan pengharapan mereka hancur. Sosok yang mereka percaya, yang mereka ikuti,patuhi (walau terkadang dilawan) wafat dan mereka tidak dapat berbuat apa-apa.
Terkejut,panik, ragu-ragu pun melanda mereka.
Tapi kemudian Dia bangkit. Bukan hanya sekedar bangkit, Dia mau menemani mereka selama 40 hari. Dia masih mengingat janji penyertaanNya. Setelah itu DIa beri kuasa buat mereka. Mereka yang dahulu takut kini tidak lagi. Mereka yang dahulu khawatir bisa dengan tenang menjalani gelombang kehidupan mereka.
Karena kuasa dan penyertaan.
Jakarta, 6 April 2010
Saturday, 20 March 2010
Yang seharusnya
Dalam batak, ada beberapa kata yang artinya sama tapi berbeda penggunaannya. Bisa karena maknanya halus dan kasar atau juga berdasarkan apakah itu kata yang seharusnya atau tidak.
Ada kata-kata yang sangat menggelitikku untuk aku terapkan dalam kehidupanku yang pernah aku dengarkan melalui perbincangan antara seorang Sintua [sintua : penatua gereja.red] dengan seorang pendeta. Aku masih ingat perbincangan itu karena dampak dari obrolan santai itu aku mendapat pencerahan baru dan bertekad untuk menerapkannya dalam kehidupanku.
Pendeta : “Asing do ate. Adong do muse halak manjou among tu bapana. I Jakarta on do muse.”
(Aneh yah. Masih ada aja orang yang memanggil bapaknya dengan sebutan among. Di Jakarta pula.)
Sintua : “Sian geleng do huajarhon i. Alana nga godang manjou au Amang. Tarlumobi I gareja ala hasintuaonki. Alai molo iannakhonhu, ingkon manjou Among do tu au. Asa tanda halakki iannanghonku.”
(Dari kecil aku udah mengajarkan itu. Karena sudah banyak yang memanggil aku Amang. Terutama kalau di gereja karena pelayananku. Tapi untuk anak-anakkku, mereka harus memanggil saya Among. Biar orang-orang tahu kalau mereka anakku.)
Sebuah percakapan yang membawaku kepada sebuah pemahaman lebih tentang Amang dan Among. Aku tak pernah mengerti akan hal itu sebelumnya. Tapi makna kata-kata itu ternyata berbeda. Malahan membakar tekadku untuk menerapkannya untuk Mamaku.
“Aku mau memanggil Mamaku dengan Inong.” Rasa kekeluargaan lebih kental kalau memakai kata itu. Agak janggal karena memang aku dan Mamaku tidak pernah menggunakannya, tapi memang itu yang seharusnya aku gunakan untuk sapaanku kepadanya.
21 Maret 2010
*
Aku dedikasikan tulisan ini untuk mengenang Amongku yang sudah meninggal 3 tahun yang lalu tanpa pernah mendengar aku memanggil dia Among, untuk Inongku yang sudah mendengar kata “Inong” dan agak sedikit kaget dan terakhir untuk Amang St. O. Gultom yang sudah dipanggil Bapa ke rumah Abadi.
Friday, 19 March 2010
Maukah kau?
Aku sedang berdiri disini
Dan masih tetap disini
dan mungkin akan tetap disini
untuk beberapa saat lagi
bukan untuk melihat
atau untuk menerawang Al Hayat
hanya untuk berdiri dan melayat
tapi takkan menjadi mayat
hanya untuk berdiri
melayat tempat abadi
hanya untuk ada disini
diam sendiri
Thursday, 4 February 2010
Bergerak atau beranjak,kenapa?

Mungkin berpikir untuk berlari
Tapi saat ini aku lelah
Tidak ingin rasanya aku mengeluarkan tenaga lebih untuk itu
Mungkin berpikir untuk beranjak dan bergeser
Tapi….Nanti dulu
Biarkan aku menghela nafas kembali
Saat semua sudah terkuak
Hati ini terbakar dan menjadi kuat
Meletakkan diri di bara
Agar jangan aku sendiri yang menggerakkan diri
Tapi biarlah suluh kecil itu yang memaksaku untuk bergerak
Wednesday, 17 June 2009
menjadi orang yg mengecewakan
sering sekali kudengar
bahkan berulang kali dinyatakan untukku
manusia memang mengecewakan...
dia, dia dan dia berkata klo dia kecewa denganku
memang pria yang mengecewakan
Monday, 15 June 2009
saat semuanya
batas-batas yang sudah ada menjadi semakin sempit
keterbatasan dalam gerak, kebebasan dalam bertindak
maupun keliaran untuk menggerakkan tangan
sungguh terkungkung
..............................................
lepaskan setiap rantai yang menjerat hatimu
biarkan asap yang menutupi matamu tertiup oleh angin penyuci itu
berharaplah agar tak kau dipenjara oleh perasaan itu
karena itu dapat menggenggammu erat
sampai kau tak bisa merasakan seperti apa berpikir jernih
