Sunday, 31 March 2013

Ditantang

Tantangan adalah sesuatu yang aksi yang menimbulkan 2 kemungkinan reaksi dari si penerima aksi tersebut. Jika dia reaksinya positif, orang tersebut akan semakin bertumbuh dan berkembang menjadi seorang yang tangguh dan siap menghadapi. Tantangan tersebut membuat dia semakin diasah sehingga hasilnya adalah sebuah keindahan. Bayangakn proses pembuatan sebuah cangkir dari tanah liat. Dari awal ditempa, dibakar dan diremukkan, tapi akhirnya sebuah cangkir yang indah. Sebuah reaksi positif yang kita keluarkan dari menghadapi sebuah tantangan akan mengasilkan buah.

Tapi bagaimana jika reaksinya negatif? Saat terima tantangan, kita jadi takut, putus asa, hilang fokus bahkan terikut dengan tantangan itu. Bersatu dalam sebuah tantangan menjadi hancur? Ingat bagaimana respon atau reaksi kita menentukan kita akan ke depannya seperti apa. Akan berakhir indah atau sebaliknya hancur.

Sunday, 28 October 2012

Pemimpin yang membebaskan

Siapa yang tidak merindukan seorang pemimpin yang menjadi teladan? Siapa yang tidak ingin dipimpin oleh seorang yang bisa mengayomi dan mempersatukan semua anggotanya? Siapa yang tidak ingin merasakan kegembiraan bersama dengan para pemimpunnya?

Semua ingin bersama dan bergaul akrab dengan pemimpinnya. Menjadi bagian yang utuh antara pemimpin dan anak buah. Sinergi dalam satu perasaan. Bahagia bersama dan sedih bersama.

Tapi, siapakah pemimpin yang seperti itu? Apakah sangat sulit untuk mencarinya? Apakah mustahil untuk menemukannya?

Susah, tapi mungkin....Pasti ada...Sejarah mengatakn pemimpin seperti itu ada. Ingat presiden Chili yang ikut "berjuang" untuk menyelamatkan pekerja tambangnya? Atau sejarah lain yang menunjukkan kisah pemimpin yang membebaskan? Bukan bebas secara fisik saja, tapi juga bebas secara hati dan jiwa. Saat pemimpin ada bersama pengikutnya, entah itu kejadian suka maupun duka, saat itulah dia sudah membebaskan pengikutnya...

CAKUNG, 28 Oktober 2012
Selamat sumpah pemuda

Friday, 28 September 2012

Menepuk air di dulang

                Di masa kecil saya, saya senang sekali bermain di sungai. Saya suka dengan keindahan alam yang ada di sekitarnya dan kesenangan bermain dengan air. Walaupun saya selalu dilarang untuk bermain di sungai, saya selalu mencuri-curi waktu dan kesempatan untuk bermain ke sungai bersama dengan teman-teman saya. Entah itu sepulang sekolah sebelum sampai di rumah ataupun sore hari diam-diam keluar dari rumah untuk menyempatkan diri ke sana. Kadang sepulang berenang dari sungai, saya dan teman-teman harus menunggu lama untuk mengeringkan rambut yang basah karena berenang. Takut ketahuan…
                Satu hal yang saya paling gemari adalah berperang air. Caranya adalah dengan menepuk air dengan sudut kemiringan tertentu ke arah lawan kita. Ini sangat mengasyikkan karena memang kita dikondisikan untuk bertempur dan mencari kemenangan. Jika air yang ditepuk terkena dengan badan, itu sungguh menyakitkan. Apalagi terkena wajah, bahkan mata. Itu sungguh sangat menyakitkan.
                Tapi pernahkah anda menepuknya dari atas ke bawah? Tidak menepuk menyamping, tapi tegak lurus dengan permukaan air. Apa hasilnya?
Wajah anda akan terkena cipratan air itu. Bagaimana dampaknya?
Hal ini yang saya pelajari dari sebuah peribahasa “menepuk air di dulang”. Bagaimana tindakan kita akan dikenakan atau berdampak ke kita sendiri. Menanggung derita akibat kelakuan diri sendiri.
Kadang kita tidak menyadari akan apa yang kita lakukan. Selama itu menjadi kesenangan, pasti akan terus dilakukan. Tanpa melihat itu berdampak buat orang lain. Entah itu dampak positif atau dampak negatif. Mungkin ini makna tersirat lain dari peribahasa itu. Kontrol diri sendiri. Evaluasi itu ternyata penting. Terutama saat-saat sedang dalam performa prima. Seakan semuanya tampak lancar dan menyenangkan. Tapi di baliknya ada dampak yang kurang baik bagi orang lain, kita harus mendeteksinya dari dini.
Menepuk di air dulang hampir mirip rasanya dengan menjilat ludah sendiri. Tapi ini buntut nantinya jika memang tindakan kita berdampak negatif bagi orang lain. Jangan sampai menepuk air di dulang, tapi basuhlah muka dengan air di dulang.

Jakarta, 280920012

Wednesday, 5 September 2012

tanggung jawab itu membutuhkan integritas dan dedikasi

 Kamis, 6 September 2012

Setelah berjibaku dengan jalanan Jakarta - Bekasi dan menyempatkan diri untuk sarapan, pagi ini aku terbawa dalam alunan kata yang ditulis di http://creatingwebsite-maskolis.blogspot.com/2011/03/dua-manusia-super-di-pinggir-jalan.html  . Sambil duduk di depan PC di kantor, aku dapat artikel ini. Sangat menarik. Walau dengan permainan kata-kata yang didramatisir, aku tetap dengan sadar terbuai dalam setiap kata-kata dalam tulisan itu.

Tak sadar, akupun mulai memasuki tulisan itu. Emosi dalam tulisannya menyatu dalam emosiku pagi ini. Mataku pun mulai berkaca-kaca takkala tulisan ini sampai pada titik mengangkat integritas dan dedikasi dua orang penjaja tissu di jalanan Jakarta ini. Bagaimana tidak terharu, saat mereka membutuhkan uang (sangat membutuhkan uang) mereka masih tetap berpikir atas kepuasan pelanggan, kejujuran dan pelayanan yang maksimal. Amazing !!!

Kejujuran memang tema yang diangkat, tapi aku lebih melihat dedikasi dan integritas. Sekecil apapun tanggung jawab atau pekerjaan yang dibebankan kepadamu, ingatlah, tanggung jawab itu membutuhkan integritas dan dedikasi.


salam,

d'Niel

Tuesday, 22 May 2012

Karena Tuhan

Karena Tuhan 
Cipt : Daniel A Nababan
C=do,4/4 (terinspirasi dari II Korintus 1:7)

             C                Am7                  
Dipertemukan, dan dikumpulkan
              Dm7        Dm7/G          G
Dipersatukan dalam sebuah keluarga Tuhan
             C                Am7                  
Kaulah temanku, engkau saudaraku
        Dm7        Dm7/G          G 
karena Kristus kita satu dan menjadi keluarga
Bridge : 
       Em             Am9
walau kita saling berbeda
      Em             Dm7                G
walau kita tak slalu bersama di dunia ini

Reff :
        F      G                 Em               A7
tapi Dia 'kan memperlengkapi s'tiap kita
            Dm7        G7          C Gm C7
tuk menjadi bagian dari k'luarga sejati
            F               G              Em
dan kasihNya biarkan s'lalu mengalir
            A7            Dm7               G7          C
dan menjadi dasar kita 'tuk melayaniNya bersama

Renungan: 
...karena kami tahu, bahwa sama seperti kamu turut mengambil bagian dalam kesengsaraan kami,kamu juga turut mengambil bagian dalam penghiburan kami...(II Korintus 1:7)Keluarga bagiku adalah tempat membagikan apa yang telah Tuhan kerjakan dalam hidup kitakepada orang lain. Baik itu dukacita maupun sukacita. Membagikan dukacita, agar saudara kita tahubahwa dengan dukacita yang kita lewati bersama Kristus,saudara kita dapat dikuatkan. Membagikan sukacita, agar saudara kita tahu bagaimana bersyukur dan bersukacita bersama karena Tuhan.Pada suatu siang, saya mencoba kembali mengingat apa yang tlah Tuhan kerjakan dalam hidupku.Hal terbesar yang Dia lakukan adalah memberikanku kesempatan utk meraih anugrah keselamatan.Dan bukan hanya sampai disitu saja, aku yang dahulu "jauh" sudah menjadi "dekat" oleh darah Kristus.Proses pembentukannya tidak cukup hanya sekali. Melalui pertemuan pribadi dengan Allah dan melalui pembinaan-pembinaanNya melalui anak-anakNya. Tak dapat kupungkiri, hal itu berpengaruh besardalam hidupku. Pembinaan yang amat kurasakan adalah ketika aku kuliah di Unpad. Di sebuah kota Jatinangor, tangan Tuhan tetap membina aku. Bukan suatu kebetulan aku ada di kota itu. "Dipertemukan dan dikumpulkan..."adalah lirik pertama yang aku pilih karena memang tangan Tuhan yang memelihara itu-lah yangmempertemukan dan mengumpulkan aku dan kau dalam sebuah wadah persekutuan di PMK Jatinangor.Seperti dalam Efesus 2:12-14, dahulu yang tidak termasuk dalam kewargaan, kini masuk dalam kewargaan kerajaan Allah. Dia yang mempersatukan kita dalam sebuah keluarga Tuhan.Bait pertama lagu ini bercerita tentang proses bagaimana Tuhan menjadikan kita(PMK Jatinangor) sebuah keluarga.Jika dulunya hanya dianggap teman, namun sekarang lebih "dalam" lagi. Terungkap kata "saudara" di dalam lagu ini.Lagi-lagi diingatkan, kita dipersatukan karena Tuhan.Bagian bridge atau pertengahan lagu ini menjembatani kita dan membawa kita pada penghayatan,1. walau Tuhan t'lah mempersatukan kita, tapi kita sebagai manusia berdosa pasti terkadang berselisih paham dengan saudara kita yang lain. Konflik itu pasti terjadi dan perbedaan itu memang nyata.2. walau Tuhan t'lah mempersatukan kita, tp kita tak selamanya bisa bersama, saling menguatkan atau tetap terbina dan melayani di satu lingkungan saja.Dunia kampus akan selesai, lulus dan menjadi alumni... Apakah kita masih tetap bisa tumbuh bersama?Masihkah kita bisa kunjungan ke kosan teman utk menguatkan... Masihkah kita sempat utk merawat teman yang sedang sakit???Apa yang menjadi inti pemecahan masalah ataupun dilema itu?Agar kita bisa tetap menjadi keluargayang TUhan harapkan??1."tapi Dia 'kan memperlengkapi s'tiap kita tuk menjadi bagian dari k'luarga sejati..." (terinspirasi dari Efesus4:12) Yang pertama dan utama ialah bukan kita yang berusaha agar kita tetap menjadi sebuah keluarga. Tapi, karena Tuhan. Dia yang memperlengkapi kita bagi pembangunan tubuh Kristus yang seutuhnya.2."dan kasihNya biarkan s'lalu mengalir dan menjadi dasar kita 'tuk melayaniNya bersama" Dalam surat I Korintus 13, terdapat ada bnyk perbedaan dalam jemaat di Korintus. Tapi dari banyaknya perbedaan itu, pasal ini ditutup dengan sebuah kata kasih. Itulah kunci pemecahan masalah yang saya tampilkan di lagu ini. Walau berbeda, kita masih punya kasih yang mempersatukan. Dan kita dipersatukan untuk tetap menjadi satu tubuh Kristus. Satu tubuh Kristus yang melayani bersama. Biarlah kasihNya yang mengalir dan menjadi dasar kita untuk melayaniNya bersama. Saat ini mungkin hanya area Jatinangor. Tapi suatu saat, seluruh Indonesia bahakan dalam dunia ini bumi penuh kemuliaan Allah. Karena aku, karena engkau dan pastinya karena Tuhan.


Penekanan-penekanan lagunya terdapat di lirik "engkau saudaraku", "tapi Dia", , "dan kasihNya", karenamenggunakan nada-nada dengan jangkauan yang lebih tinggi tapi tetap pada range nada-nya.Pemakaian tanda triol terdapat pada lirik "tuk menjadi" pada bagian refrain. 

Semoga jadi berkat
d'Niel 28102006

count your blessing