Memang kehidupan ini terus berlanjut dan akan berlanjut dengan atau tanpa diriku tapi menorehkan beberapa kejutan dalam kehidupan ini ....mungkin bermanfaat buatku atau buat siapa saja
Thursday, 12 August 2010
Manusia Indonesia: Sebuah Pertanggungjawaban
Wajah lama itu sudah tak keruan di kaca,
sedang wajah baru belum jua jelas.
Siapakah itu orang atau manusia Indonesia?
Apakah dia memang ada?
Di mana dia?
Seperti apa gerangan tampangnya?
Mochtar Lubis
Wednesday, 11 August 2010
Ketika Keindonesiaan Kita Terkoyak
kompascetak.com
Rabu, 11 Agustus 2010 | 03:34 WIB
Bunyi sila kedua dasar negara kita, Pancasila, hingga hari ini masih terasa begitu indah di telinga. Baik dalam tataran makna maupun ritme dan semangat dari untaian kata-katanya: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Juga masih aktual, paling tidak sebagai bahan refleksi di usia ke-65 tahun republik ini.
Semangat yang diusung para pendiri bangsa ketika merumuskan rangkaian kata tersebut tentulah berangkat pada kenyataan sejarah. Bangunan rumah bersama—baik secara politik maupun kultural—bernama Indonesia itu, dengan Pancasila sebagai lapiknya, dijelmakan sebagai sesuatu yang diidamkan untuk kepentingan bersama.
Kemanusiaan adalah bentuk lain dari semangat menghargai satu sama lain, sosok yang toleran, yang dalam perilaku sehari-hari didasarkan pada kepentingan bersama sebagai sesama anak bangsa. Akan tetapi, bangunan keindonesiaan yang ideal itu kini—harus diakui—mulai terkoyak, terutama pasca-krisis multidimensi yang mengharu-biru negeri ini sejak era reformasi.
Pada sementara orang dan kelompok, keragaman tidak lagi dipandang sebagai suatu anugerah. Perbedaan pandangan kini gampang sekali memicu konflik hingga berdarah-darah.
Apa yang disebut sebagai pluralisme dan multikulturalisme, yang sejatinya sudah muncul semenjak penghunian manusia pertama di Nusantara pada masa prasejarah, kerap disalahtafsirkan secara sempit dalam hubungan pengakuan keyakinan beragama. Bahkan tak jarang dimunculkan isu mayoritas-minoritas atau superioritas-inferioritas, yang pada akhirnya gampang menyulut pertikaian.
Kata-kata bijak bahwa anak negeri ini menghuni bangunan rumah bersama dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia selalu dilandasi semangat gotong royong, rukun, dan toleran, dalam beberapa aspek tampak mulai kedodoran. Semangat menghargai pun sudah mulai kehilangan sosoknya. Kata ”kami” atau ”kamu” kini cenderung mulai mendominasi ranah pergaulan sehari-hari, menggantikan sekaligus menyingkirkan kata ”kita” yang seharusnya menjiwai persaudaraan dalam kebersamaan.
Alhasil, sifat eksklusivisme kelompok pun kian menonjol. Semangat kebinekatunggalikaan yang lebih menekankan penghargaan terhadap keragaman, kesetaraan, dan kesederajatan, kini sepertinya mulai tenggelam di tengah semangat pencarian jati diri kelompok-kelompok tertentu. Di mana sosok manusia Indonesia yang toleran itu kini bersembunyi? Di mana keadilan kini bersemayam? Dan, di mana keadaban itu bertakhta?
Kesenjangan sosial
Terlalu banyak contoh kekerasan komunal di negeri ini, terutama sejak era reformasi bergulir. Konflik-konflik sosial di berbagai pelosok Tanah Air kerap menghiasai layar kaca stasiun televisi, mengisi halaman muka surat kabar, internet, dan siaran radio. Tak jarang karena persoalan sepele, seperti kasus kerusuhan di Ambon, merambat dan meluas menjadi pertikaian antaretnis yang berlarut-larut. Bahkan, hanya lantaran ”jago” mereka kalah dalam pemilihan kepala daerah, amuk massa bisa terjadi di negeri ini.
Di tengah massa yang marah, nilai-nilai ”kemanusiaan yang adil dan beradab” hanya tinggal sebaris kata-kata. Akan tetapi, betulkah sejatinya manusia Indonesia adalah jiwa-jiwa pemarah? Sungguhkah manusia Indonesia adalah sosok-sosok beringas?
Bagus Takwin, ahli psikologi sosial dari Universitas Indonesia, tidak percaya sifat-sifat buruk itu melekat pada manusia-manusia Indonesia. Katanya, ”Masyarakat Indonesia pada dasarnya bukan masyarakat pemarah. Kalaupun muncul kekerasan, hal itu lebih disebabkan oleh akumulasi kekesalan dan reaksi terpendam yang berkepanjangan.”
Sosiolog Imam B Prasodjo juga berpandangan serupa. Dalam kasus kerusuhan antarsuporter sepak bola, misalnya, faktornya antara lain karena ketidakadilan dan kebobrokan yang telanjang di depan masyarakat, tetapi tidak ada upaya serius mengatasinya. Di sisi lain, secara kultural, masyarakat tidak dididik untuk berlapang dada menerima kekalahan dan mengakui keunggulan lawan.
Betul bahwa bahasa Indonesia memiliki kosa kata ”amuk” atau ”amok”, yang konon berurat-akar pada orang-orang Melayu serantau. Akan tetapi, sepertinya halnya kosa kata ”carok” yang melekat pada orang-orang Madura ataupun ungkapan ”siri” pada orang-orang Bugis, peristiwa ”amuk” atau ”amok” tidaklah berdiri sendiri. Di balik itu, ada situasi kultural yang memicunya, yang bila disederhanakan adalah semacam ketertekanan akibat diperlakukan tidak adil. Dalam konteks ini, semangat untuk mempertahankan harga diri adalah hal utama pemicunya, bukan semangat menghamba pada kekerasan itu sendiri.
”Tunjuk ajar” Melayu secara jelas memperlihatkan bahwa sifat pemaaf dan pemurah amat dimuliakan dalam kehidupan masyarakat Melayu. Sifat ini, kata budayawan Melayu ternama, Tenas Effedy, mencerminkan kesetiakawanan sosial yang tinggi sekaligus menggambarkan sifat rendah hati, ikhlas, tidak pendendam, bertenggang rasa, dan berbudi luhur.
Begitu banyak ”tunjuk ajar” dalam bentuk ungkapan, petuah, pantun, dan syair terkait sifat pemaaf dan pemurah dalam kehidupan masyarakat Melayu. Seperti pantun berikut://pasanglah kandil di halaman/api menyala terang benderang/orang yang adil teguh beriman/memberi maaf hatinya murah//. Atau untaian syair berikut://wahai ananda kekasih ibu/mengaku salah janganlah malu/memaafkan orang janganlah menunggu/hati pemurah menjauhkan seteru//. Juga ungkapan semacam ini://apa tanda Melayu terpuji/dendam mendendam pantang sekali/tangan pemurah suka memberi//.
Kalau segala sifat baik itu mulai tenggelam dalam keseharian hidup bermasyarakat, pasti ada sesuatu yang keliru pada pengelolaan bangsa ini. Euforia reformasi yang lebih menonjolkan sisi negatif perilaku anak-anak bangsa, antara lain ditandai munculnya konflik sosial di sejumlah tempat dalam berbagai tingkatan, seolah meniadakan semangat mulia yang terkandung dalam sila kedua Pancasila: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab!
Persoalan kultural
Barangkali, tiga tipologi kekerasan oleh negara selama masa Orde Baru, sebagaimana dikemukakan sosiolog Ignas Kleden (Menulis Politik: Indonesia sebagai Utopia, 2001), ikut berperan melahirkan bentuk-bentuk kekerasan di tingkat masyarakat saat ini. Kekerasan jenis pertama yang gampang diamati bersifat fisik, sementara tipologi kedua dalam wujud kekerasan struktural alias dominasi di semua lini kehidupan, serta jenis ketiga terkait kekerasan kultural.
Kekerasan fisik dengan semangat demi dan atas nama stabilitas nasional, baik secara politis maupun budaya, melahirkan bara kebencian pada individu-individu. Sementara dominasi atau kekerasan struktural telah melembagakan ketimpangan dalam pembagian hak, dan karena itu melanggar asas keadilan.
Adapun kekerasan kultural lebih menyangkut ketidakseimbangan—terjadi semacam hegemoni—dalam memproduksi makna. ”Selama Orde Baru, apa yang dikatakan oleh Presiden Soeharto tentang kebudayaan nasional, misalnya, dianggap lebih benar daripada apa pun yang ditulis seorang antropolog berdasarkan penelitiannya,” kata Ignas Kleden.
Selama Orde Baru, pemerintah memang punya sarana untuk menerapkan kekerasan-kekerasan tersebut. Akan tetapi, runtuhnya Orde Baru boleh dibilang mengakhiri hegemoni negara atas rakyat. Pada periode berikutnya, berbagai bentuk kekerasan baru muncul. Kali ini bukan kekerasan oleh negara terhadap masyarakat, melainkan dari dan oleh kelompok-kelompok masyarakat terhadap siapa saja.
Kekerasan komunal, misalnya, dalam pandangan Ignas Kleden, adalah reaksi yang muncul dalam bidang sosial-budaya, yang selama Orde Baru diremehkan sebagai faktor nonekonomi, di mana konflik-konfliknya dipetieskan oleh doktrin suku, agama, ras dan antargolongan (SARA). ”Kekerasan komunal adalah semacam pembalasan terhadap hegemoni negara yang meremehkan nilai-nilai budaya, atau memanfaatkannya untuk tujuan kekuasaan,” jelas Ignas Kleden.
Mengakhiri tulisan ini, menarik mengutip penggalan pidato kebudayaan Mochtar Lubis (alm) di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, hampir 35 tahun lalu. Di bawah tajuk berjudul ”Manusia Indonesia: Sebuah Pertanggungjawaban”, Mochtar Lubis mengawali pidato yang banyak mendapat sambutan—pro dan kontra—itu dengan rangkaian kalimat retoris.
Katanya, ”Wajah lama itu sudah tak keruan di kaca, sedang wajah baru belum jua jelas. Siapakah itu orang atau manusia Indonesia? Apakah dia memang ada? Di mana dia? Seperti apa gerangan tampangnya?”
Terlepas dari itu semua, konflik-konflik sosial yang kini marak tidak seharusnya terjadi apabila kita memahami fondasi keindonesiaan kita: pluralisme dan multikulturalisme! (ken)
Interpretasi Data Statistik
kompascetak.com
Rabu, 11 Agustus 2010 | 02:50 WIB
Oleh Jousairi Hasbullah
Interpretasi data yang keliru akan menyebabkan keliru pula pemahaman dan kesimpulan tentang suatu persoalan. Masyarakat akan bingung. Perencanaan pembangunan yang dirancang juga akan salah arah dan kurang cerdas.
Terkait interpretasi data, cukup menggelitik membaca tulisan Rieke Diah Pitaloka (RDP) di Kompas (31/7) berjudul ”Impersonalisasi Kaum Papa”. Menurutnya, data kemiskinan BPS menyesatkan. Teknik pengukuran garis kemiskinan dari Susenas telah mereduksi pengertian kemiskinan sebagai degradasi kualitas hidup manusia secara nonkuantitatif dan personal.
Definisi bekerja yang digunakan BPS juga dipandang menyesatkan karena mengabaikan mereka yang berpendapatan rendah dan membutuhkan bantuan. Akibatnya, Jahra, penderita tumor ganas di mata kiri, mengalami kesulitan pengobatan karena namanya tidak tercantum di dalam data penerima Jamkesmas.
Kemiskinan dan pekerjaan
Data kemiskinan BPS yang oleh RDP dihubungkan dengan kasus Jahra cukup sulit dipahami bagaimana mengaitkannya secara langsung. Angka kemiskinan BPS, yaitu penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan, adalah data kemiskinan makro yang bersifat agregatif, tidak dapat dan memang tidak ditujukan untuk menggambarkan kemiskinan orang per orang. Hampir tidak ada kaitan antara data makro Susenas yang diperoleh dari proses sampling survei yang diulas oleh RDP dan kasus individual yang dialami oleh Jahra. Ini mengindikasikan tantangan besar kita terkait bagaimana memahami data.
Mungkin yang dimaksud oleh penulisnya adalah data mikro jumlah penduduk miskin hasil Pendataan Program Perlindungan Sosial tahun 2008 (PPLS 2008). Jika demikian, data jenis ini pun tidak seharusnya diterjemahkan sebagai satu-satunya rujukan. Jangankan dalam masa dua tahun, setiap semester data jumlah penduduk miskin akan mengalami perubahan di lapangan. Mereka yang semula dikategorikan sebagai miskin, dalam beberapa bulan dapat berubah menjadi tidak miskin atau sebaliknya.
Data PPLS 2008, yang sudah dua tahun usianya, yang dikumpulkan BPS, akan lebih ideal jika dipandang sebagai panduan awal yang memang diperlukan untuk mengeksekusi program bantuan. Di sisi lain, mereka yang tidak miskin, tetapi tengah mengalami kesulitan seperti penduduk cacat, anak-anak yatim dari keluarga sederhana, penduduk yang tertimpa musibah, atau mereka yang tiba-tiba mengalami kesulitan memang perlu dibantu.
Ini memerlukan semacam kebijakan khusus dari instansi pengelola program atau pemerintah daerah untuk dapat menambah ragam tipologi manusia sasaran dan kemungkinan menambah usulan anggaran. Jumlah populasi penduduk seperti ini idealnya dihitung dengan cara berbeda dari ukuran yang digunakan untuk menentukan kemiskinan.
Kemiskinan memiliki multidimensi dan sulit diukur. Karena kesulitan tersebut, dunia menggunakan ilmu statistik dengan batasan-batasan tertentu, yang umumnya didasarkan pada kemampuan seseorang memenuhi kebutuhan hidup yang paling dasar. BPS menghitung angka kemiskinan, makro dan mikro, atas dasar kebutuhan primer tersebut pada interval waktu tertentu dan tidak menggunakan ukuran di luar standar yang ada, termasuk tidak mengukur mereka yang dalam kategorisasi Amartya Sen sebagai yang tengah dililit kesulitan, apalagi kesulitan sesaat. Poverty tidak sama dengan difficulty atau sudden difficulty.
Ukuran terkait penduduk yang bekerja, yang dipersoalkan oleh RDP, dengan definisi minimal 1 jam dalam seminggu dan dilakukan secara berturut-turut juga bukan masalah. Statistik berkepentingan menunjukkan seberapa besar mereka)yanc bekerja d`ngan jam kerja yang paling rendah, dan pendekatan tersebut justru memperkaya pemahaman terhadap permasalahan ketenagakerjaan.
Upah dan jenis pekerjaan yang diklaim RDP sangat menentukan kemiskinan seseorang memang benar dan itu secara tidak langsung telah diperhitungkan. Sekumpulan variabel untuk mendapatkan angka kemiskinan individual pada PPLS 2008 telah merefleksikan pendapatan yang rendah, jenis pekerjaan serabutan, dan varian ketertinggalan pencapaian sosial ekonomi masyarakat Indonesia.
”Mutant Statistics”
Angka kemiskinan makro tidak dapat langsung dihubungkan dengan kasus orang per orang. Fokusnya berbeda. Di sini dirasakan, pemahaman kita terhadap data sangat diperlukan. Enrico Giovannini, Kepala Divisi Statistik Organisation for Economic Co-operation and Development, mengatakan, salah satu tantangan besar dunia sekarang ini bukan terletak pada kualitas data statistik resmi saja, melainkan semakin banyak kelompok di masyarakat, yang suaranya mendominasi opini publik, yang salah dalam menginterpretasikan data statistik.
Dalam sebuah artikel berjudul Statistics and Politics in a ”Knowledge Society”, Giovannini bahkan mengatakan: ”Data based on shaky methodology can be quoted in public debate as ’fact’. Even correct data can be incorrectly interpretated, resulted in what some call as ’mutant Statistics’” (interpretasi yang tidak sebenarnya dan dicampur dengan interpretasi personal). PBB melalui 10 fundamental principles of official statistics memberi peringatan kuat: ”The statistical agencies are entitled to comment on erroneous interpretation and misuse of statistics”.
Kita memahami kegundahan Rieke Diah Pitaloka, tetapi kita juga semakin memahami bahwa dibutuhkan rekonsiliasi besar antara BPS sebagai produsen data dan para pemerhati pembangunan untuk senantiasa meletakkan pemaknaan data pada tempat yang semestinya.
Jousairi Hasbullah Analis Statistik Sosial, Bekerja di BPS
Saturday, 31 July 2010
सेमुआ बैक

"All is well....all is well"
Sebuah mantra yang diucapkan Rancho dalam film "3 idiot". Menarik sekali mantra ini karena berhasil membuat seorang bayi bergerak aktif menunjukkan tanda kehidupan setelah mengalami proses persalinan yang dramatis. Bukan sekedar itu saja, mantra itu juga dapat membuat perasaan galau menjadi tenang.
Bagian terakhir adalah hal yang sering aku alami dan cukup manusiawi aku pikir. Pernahkah anda merasa khawatir?
Pernahkah anda merasa sesuatu tidak berjalan sesuai dengan rencan anda?
Seakan anda tertekan untuk mencapainya tapi pada akhirnya tidak setitikpun tercapai?
Mungkin pernah atau pasti pernah? AKu tidak bisa menduga tentang bagaimana kisah kalian tapi kisahku pasti pernah. Dan sering sekali terjadi.
Biasanya respon yang kulakukan saat terjadi seperti itu adalah marah. Kemudian kesal. Lagi mulai melakukan sesuatu yang tidak seharusnya kulakukan. Mulai bersumpah serapah...Mulai mendongkol dan bahkan cenderung destruktif.
Tapi apa yang akan terjadi jika mencoba mantra itu? "All is well"...Semua baik...semua baik....
Kekuatan "mantra" ini adalah perasaan berserah penuh. Itu yang menjadi pelajaran berharga buatku dari "mantra" ini. Berserah penuh....Saat kau menyerahkan semuanya dengan penuh, tidak ada lagi dan tidak sepantasnya lagi si kekhawatiran itu hinggap di benakmu. Menyerahkan semuanya berarti semuanya sudah engkau percayakan.
,,,semua baik..semua baik..apa yang tlah Kau perbuat di dalam hidupku,,,
Wednesday, 7 July 2010
Bekerja dari hati, dengan hati untuk ....
Do What You LOVE
By : Billy Boen
kick andyInilah topik di buku “Young On Top” yang paling mendapat perhatian dan dibahas diberbagai blog di internet. Ketika menulis buku ini, saya memang berusaha mengurutkan dari mulai apa karakter yang ‘paling mendasar’ yang harus dimiliki seseorang untuk sukses, sampai pada karakter apa yang juga sebaiknya dimiliki seseorang ketika dia mulai mendaki karirnya hingga ke puncak. Namun, tidak terbayangkan bahwa ternyata teori sederhana yang menjadi dasar penulisan chapter pertama buku ini di’iya’kan banyak pihak. Saya percaya bahwa, “Kalau kita suka dengan apa yang kita lakukan, kita akan berusaha semaksimal mungkin; kita ngga akan melihat rintangan sebagai suatu beban, tapi lebih merupakan suatu tantanganan yang akan kita hadapi dengan senang hati”.
Teman saya, Rene Suhardono yang selalu sharing diacara “career coach". Seseorang yang baru saya kenal secara personal di acara Kick Andy Off Air di Universitas Udayana bulan Desember 2009 lalu mengaku bahwa dia suka banget nyanyi. Nugie, begitulah namanya; juga lewat lagunya “Lentera Jiwa” menyampaikan pesan agar kita mencari tahu dan melakukan apa yang kita cintai. Orang tuanya adalah Pegawai Negeri, dan mereka berharap Nugie juga akan mengikuti jejak mereka. Kita semua tahu, Nugie bukan merupakan seorang Pegawai Negeri, tapi dia adalah seorang penyanyi sukses era sekarang ini.
Dari kecil saya sudah tahu mau jadi apa, saya beruntung. Kedua orang tua sayalah yang mengarahkan (bukan memaksakan) saya untuk menjadi saya seperti sekarang ini. Apa passion saya? Hmm,...saya suka brand management; mulai dari menciptakan, membesarkan, dan mempertahankan merek. Saya juga suka memimpin. Jadi, apakah sekarang ini saya di JIM dan Rolling Stone doing what I love? Jawabannya “Ya”.
Saya bertemu ratusan mahasiswa yang rata-rata bertanya, “Bagaimana cara untuk mencari tahu apa passion-nya?” Ada banyak orang yang lebih ahli dari saya untuk menjawab pertanyaan ini, tapi bagi saya simple aja; saya biasanya akan balik bertanya, “Apa makanan yang kamu suka, apa makanan yang kamu ngga suka?” Biasanya mereka yang ditanya demikian akan dengan mudahnya menjawab, “Saya suka masakan Padang, saya ngga suka pete” dan sebagainya.
Kenapa saya tanya demikian? Sebagai manusia, kita memiliki instinct yang akan ngasih tahu kita apa yang kita sukain dan apa yang ngga kita sukain. Instinct sendiri akan berkembang dan terasah dari waktu ke waktu, dari apa yang kita alami. Nah, passion sendiri adalah sebuah kata yang masih dianggap ‘tinggi’, jadi kalau boleh saya ‘rendahkan’ di sini, passion itu sebenarnya = sesuatu yang kita cintai.
Gini deh contoh sederhananya. Misal, waktu kamu SMA, kamu suka ngobrol di kelas, ngga canggung untuk ngomong di depan kelas, ngga takut untuk kenalan sama orang baru, sering berhasil ngajak teman untuk pergi bareng, dan sebagainya. Apa kira-kira jurusan yang bisa kamu ambil di kuliah yang sesuai dengan passion kamu? Mungkin jurusan Manajemen Pemasaran, Manajemen Komunikasi, Hubungan Masyarakat. Apa kira-kira karir yang bisa kamu ambil? Mungkin Sales, Marketing, PR...
Sekali lagi, contoh di atas adalah contoh sederhana. Tapi menurut saya, memang sesederhana itu koq untuk ‘mauin’ apa sebenernya passion kita. Buat kamu yang masih mau cari tahu apa passion kamu, coba deh merenung 5 menit. Tanya ke dirimu, apa yang kamu suka. Dari situ, coba sambungin ke pekerjaan yang kamu tahu; ada Sales, Marketing, Akunting, Penyanyi, Pelukis, Politik, Guru/Dosen, Psikologi, PR, Komunikasi, Keuangan, dll.
Daripada kamu mencoba 1,000 jenis pekerjaan satu per satu untuk mencari tahu kamu ‘cocoknya’ dimana dan buang waktu, mending kamu merenung dan benar-benar cari tahu apa yang kamu sukai dengan menanya ke dirimu sendiri, ukur kemampuan dirimu (kalau kurang mampu, belajar semaksimal mungkin; semakin kita belajar, semakin kita menjadi lebih baik...jadi jangan takut untuk ngga mampu melakukan apa yang kamu sukai), dan...just Do what you love!
Billy Boen
Chief Executive Officer – PT Jakarta International Management
Author & Host Radio Show “Young On Top”
www.twitter.com/youngontop
www.facebook.com/youngontop
Subscribe to:
Posts (Atom)