Saturday, 11 April 2009

Terbang cepat

Kembali semangat itu dihembuskan
Terbang cepat dibawa pergi oleh nafsu
Saat raga telah terkungkung
Saat tubuh mulai terbelenggu oleh rantai jahanam
Aku ingin lepas tapi aku tak kunjung bebas
Kuserahkan kefanaan ini pada api yang menyala
Sudah kuletakkan ini pada kaki-kaki dian
Tapi semuanya gelap tak terbenderangi
Allah adalah benar dan semua manusia pembohong

Friday, 3 April 2009

cengkraman keinginan hati itu sangat kuat

yah, keinginan itu sangat kuat kuasanya. bayangkan saja, orang semula hanya orang yang biasa-biasa saja, tapi dengan keinginan yang kuat dia bisa "from nobody to somebody". sudah banyak kisah yang aku baca tentang orang-orang yang seperti ini.
Luar biasa memang kekuatan cengkraman keinginan itu. Bukan hanya sekedar yang positif saja. Untuk contoh negatif, masih banyak juga. Gara-gara keinginan untuk memakai narkoba lagi, seseorang bisa melakukan apa saja. Mencuri, menipu atau bahkan membunuh. Walau awalnya adalah narkoba, tapi karena pengaruh keinginan, itu bisa menjadi nyata.
Keinginan itu bisa mengubah segalanya. Akupun merasakan bahwa memangkeinginan itu sangat luar biasa. Kalau sudah kepengen untuk bermalas-malasan, pasti semuanya enggan untuk dilakukan. Apakah ini teori dasar dari NLP yah?
Jika keinginannya sudah besar, segala sesuatu pasti akan dilakukan. Cengkraman yang sangat menakutkan. Karena hanya keberserahan pada Sang Penguasa, hanya itu yang menjadi alat penangkalnya.

Thursday, 12 March 2009

Berita dari rumah itu

Rumah itu pernah menjadi tempatku menceritakan berbagai macam sisi dari kehidupanku. Rumah itu tempat aku juga duduk, mendengar dan mempelajari apa yang sedang Tuhan tetapkan dalam hidupku. Luar biasa memang rumah itu. Dengan atapnya yang sudah mulai tua dan selalu bocor jika hujan datang, dia menaungi banyak sekali mahasiswa untuk saling tertawa, bernyanyi bahkan berbagi hidup satu dengan yang lain. Dengan berbagai macam kontroversinya, mulai dari banyak hantu, ada penunggu bahkan sampai akan ditutup oleh masyarakat sekitar karena resah akan aktifitas orang-orang di dalam rumah itu, dia selalu tetap berdiri diam dan hanya bisa menyaksikannya.

Sungguh sangat istimewa jika bisa menyaksikan rumah itu dari dulunya semberawut hingga kini sedikit berbenah untuk wajah barunya. Sedikit demi sedikit, dia di-rias. Awalnya memang bukan orang-orang yang di dalamnya berusaha untuk mencarikan baju baru buat dia. Tapi, akhir-akhir ini, setelah setiap orang yang merasakan berkat dari pelayanan yang di rumah itu sudah semakin banyak, mereka mau mendandani rumah itu.

Titik demi titik. Batu demi batu. Kucuran berkat yang diterima yang disalurkan lagi untuk membangun rumah itu memang sudah terasa sampai sekarang.

…Lihatlah, dia sudah sedikit gagah sekarang. Walau belum megah, tapi dia sudah mulai menunjukkan kegagahannya. Dia berkata bahwa dia sanggup untuk menampung setiap pekerjaan Tuhan lainnya yang akan dikerjakan di dalamnya. Dia mau untuk diam, menaungi dan mendengar setiap firman yang akan ditabur di dalamnya. Tak lupa dia juga masih tetap mau menanti untuk kedatangan orang-orang yang sudah pernah merasakan nikmatnya pelayanan dan indahnya pembentukan TUhan di tempatnya.

Thursday, 19 February 2009

mengingat hari ini

Resahku mengingat hari ini
Labuhanku kenapa tidak bersandar langsung?
Ingin berlama di lautan ini?
Hatiku tak sanggup... .ingin segera berlabuh di dunianya
Ombak itu masih tinggi...
Sulit untuk melewatinya
Anginya masih kencang menghantam setiap apa yang dilaluinya
Karang itu...karang itu walau tak bergerak
Dia tetap menghalangi
....
Sesaatku tersungkur
Di dekat sebuah tiang usang yang belum membusuk memang
Melepaskan pikiran dari setiap cinta yang membelenggu jiwa
Apakah eksistensi dan realitas cinta itu mampu menuntunku?
Melihat mercu suar yang akan menahkodai aku tuk mendaratkan asaku ini
...
Lihat...sinar itu muncul kembali
Memang tak menolongku tuk sampai ke daratan
Tapi mengingatkanku akan sebuah perjuangan yang tak pernah berakhir
Mau masih tetap berlayar?
Kembangkan sayapmu hai pelaut...
Sebelum kau injakkan daratan, jangan sampai asamu terputus
Tak ada kata lelah buat kita
Mungkin kehabisan tenaga...atau bahkan banyak energi yang terkuras untuk itu
Aku masih bisa berharap dan pengharapanku tidak kosong
Esok mungkin akan diberi ombak yang lebih besar...Aku mau menghadangnya
Jika karang-karang itu lebih tajam...Aku ingin melewatinya
Nahkoda utamaku akan membawaku sampai ke tujuanku
Pelabuhan semua mimpiku...
Aku tak ingin hidup seperti esok aku akan terhempas dan mengakhiri pelayaranku
Tapi aku ingin hidup
sebagaimana Ia sedang menyuruhku untuk mengembangkan layar-layar kapal kami

Wednesday, 11 February 2009

Kau takkan pernah tahu kapan

Kau takkan pernah tahu kapan, darimana dan melalui apa Tuhan akan membalas semuanya. Baik itu kebaikan maupun tingkah laku burukmu.
Hari ini aku diberitahu kalau ada salah satu orang teman sepelayananku dulu di kampus tidak dapat membayar uang kuliahnya karena kesulitan ekonomi yang dia alami. Aku diminta untuk membantu dia. Dalam pergumulan membantu temanku itu, aku teringat dengan komitmenku dulu sewaktu sebelum medapat pekerjaan. Aku juga dulu berkomitmen untuk membantu seorang teman yang baru kehilangan ayahnya untuk tetap melanjutkan kuliahnya. Tapi, komitmenku itu tidak terealisasi.
Hari ini aku diingatkan untuk komitmen itu. Walau akhrinya tidak dapat membantu uang kuliahnya, aku memutuskan akan membantu uang bulannya walau hanya sedikit yang bisa kubantu.
Dari pengalaman itu aku ingat bahwa Tuhan akan membalaskan apa yang kau lakukan sesuai dengan caraNya. Kau tidak akan tahu bagaimana Tuhan akan menggantinya. Lakukan dan berikan saja. Tanpa mengharapkan imbalan Tuhan. Karena Dia tetap akan mengingatnya.

count your blessing