Saturday, 3 January 2015

Mau tahu tapi mending ga mau tahu

Gila...Hal ini yang menjadi yang dalam pikiranku saat ini. Benar benar gila dan edan.

Bukan cuman aku yang gila, tapi memang lingkungannya aja yang jadi gila. Edan...Ga pernah kebayang hal yang kaya gini akan terjadi. Tapi memang memacu adrenalinku. Benar benar memacu adrenalin dan seluruh hidupku.

Senang bercampur gelisah, bercampur ragu, bercampur degdeg an. Gila....benar benar gilaaaaaaa....tapi memang seru..seru banget...Ampunnnnnnn....tapi mau lagi...

Rasa apa ini namanya.....aku pun tak tahu dan mungkin saat ini, akupun ga mau tahu rasa apa itu namanya...



Salam,



Yang tak pernah mau tahu

Thursday, 18 September 2014

Lima

Ini adalah hari kelima setelah anakku Justin lahir. Lelah tapi bahagia, berkeringat tapi berjuang, "Deg dean" namun lega. Itu mungkin segelintir perasaan yang kudapatkan hingga sampai ini. Ke depannya? Onky God Knows. Tapi semoga perjuangan yang diajarkan anakku kepadaku bisa tetap berakar dan bertumbuh dalam diri orang tuanya.

Anakku terlebih dahulu mengajarkanku banyak hal sebelum aku mengajar dia. Suatu proses yang luar biasa. Di saat orang tua berdoa akan mengajarkan yang terbaik untuk anaknya, terlebih dahulu sebenarnya sang Anak sudah mengajarkan orang tua sesuatu.

Berlebihankah pemikiran ini? Mungkin saja. Tapi tetap aku harus katakan bahwa itulah kenyataan yang aku rasakan.


Salam,

PapaJustin

Monday, 15 September 2014

Terus berjalan

Tak tahu apa yang harus kucurahkan dalam hati ini ketika menulis post ini. 

Hari ini adalah usia kedua hari anakku. Justinus Xaverius Markus Nababan. Setelah melewati berbagai tantangan hidup yang masih seumur jagung, dia berhasil keluar dari masa-masa kritisnya. Hari ini dia sudah mulai menyusui langsung dari ibunya. 

Dia sudah mengalami apa yang dikatakan perjuangan hidup itu dimulai dari usianya yang masih dini ini. Sebuah pelajaran berharga di awal awal kehidupannya. Sebelum dia bisa berbicara atau berpikir dengan banyak pengetahuan dunia ini, tapi dia sudah bisa berjuang. 

Semoga dia semakin bertumbuh dan tetap mengingat bahwa perjuangan hidup itu terus berlanjut. Anak bayi saja tahu bagaimana harus berjuang dan bertahan hidup. Bagaimana dengan kita?


Rumah Sakit Pelabuhan Jakarta Utara
16 September 2014

Tuesday, 29 April 2014

Berkendara menuju Harapan

Hari ini hari yang bercampur aduk dalam hidupku. Senangkah? Atau sedihkah? Atau bahkan hampakah? 
--------------------------------------------------------------------------------------------------------
Tidak ada yang tahu setelah aku berdoa pagi ini dengan mengucap syukur pada Tuhan Sang Pemberi Nafas Baru-ku hari ini.
Setelah “Amin” terucap dari mulutku, 
------------------------------------------------------------------------------------------------------

akupun segera berdiri tegak – membuka mata – tak lupa menguap sebentar karena rasa kantukku masih ada – kemudian bergerak meninggalkan tempat tidurku. 

Hidupku kumulai saat ini.

Sunday, 15 September 2013

Bangkit, trus jadi apa?

Saat ini aku sedang diperhadapkan dengan situasi yang sangat tidak mengenakkan. Pasalnya, melihat sesuatu hal yang tidak sesuai dengan pikiran dan hati itu memang sangat sangat membuat hati terasa teriris sembilu. Mungkin memang perasaanku saja, tapi lama kelamaan memang membosankan.

Aku mengalami pembinaan pertama sekali di J town ini di tempat ini. Semua bekal dan upaya sudah banyak kulakukan. Memang sih, kalau dituduh aku menginginkan sesuatu yang lebih karena perbuatanku, itu bisa saja. Yah, memang dasar ego yang tinggi, aku juga (mungkin) menuliskan hal ini.

Banyak yang kulihat semakin menjauh dari jalan yang kupahami "benar" selama ini. Mulai dari pembelokan kekuasaan sampai pada pemotongan sesuatu hal yang sakral. Apakah tidak ada lagi kata " sakral" itu disini?
Sampai saat aku menuliskan tulisan ini pun, aku melihat bagaimana kesakralan itu sudah tidak dihargai lagi. Lihat ke depan...Apakah dia sudah mendapat " tohonan" itu?

Sudahlah....mungkin hanya ego saya saja melihat itu sakral, tapi buat pemimpin yang sebenarnya dia yang membuat dia memimpin, itu hal biasa.
Baiklah...apakah sudah cukup untuk membangkitkan sesuatu? Aktifitas dan karya Nya memang nyata saat Dia bangkit. Tapi apakah hanya bangkit saja? Lalu kemana???

Selamat hari minggu,

d'Niel

Sunday, 31 March 2013

Ditantang

Tantangan adalah sesuatu yang aksi yang menimbulkan 2 kemungkinan reaksi dari si penerima aksi tersebut. Jika dia reaksinya positif, orang tersebut akan semakin bertumbuh dan berkembang menjadi seorang yang tangguh dan siap menghadapi. Tantangan tersebut membuat dia semakin diasah sehingga hasilnya adalah sebuah keindahan. Bayangakn proses pembuatan sebuah cangkir dari tanah liat. Dari awal ditempa, dibakar dan diremukkan, tapi akhirnya sebuah cangkir yang indah. Sebuah reaksi positif yang kita keluarkan dari menghadapi sebuah tantangan akan mengasilkan buah.

Tapi bagaimana jika reaksinya negatif? Saat terima tantangan, kita jadi takut, putus asa, hilang fokus bahkan terikut dengan tantangan itu. Bersatu dalam sebuah tantangan menjadi hancur? Ingat bagaimana respon atau reaksi kita menentukan kita akan ke depannya seperti apa. Akan berakhir indah atau sebaliknya hancur.

Sunday, 28 October 2012

Pemimpin yang membebaskan

Siapa yang tidak merindukan seorang pemimpin yang menjadi teladan? Siapa yang tidak ingin dipimpin oleh seorang yang bisa mengayomi dan mempersatukan semua anggotanya? Siapa yang tidak ingin merasakan kegembiraan bersama dengan para pemimpunnya?

Semua ingin bersama dan bergaul akrab dengan pemimpinnya. Menjadi bagian yang utuh antara pemimpin dan anak buah. Sinergi dalam satu perasaan. Bahagia bersama dan sedih bersama.

Tapi, siapakah pemimpin yang seperti itu? Apakah sangat sulit untuk mencarinya? Apakah mustahil untuk menemukannya?

Susah, tapi mungkin....Pasti ada...Sejarah mengatakn pemimpin seperti itu ada. Ingat presiden Chili yang ikut "berjuang" untuk menyelamatkan pekerja tambangnya? Atau sejarah lain yang menunjukkan kisah pemimpin yang membebaskan? Bukan bebas secara fisik saja, tapi juga bebas secara hati dan jiwa. Saat pemimpin ada bersama pengikutnya, entah itu kejadian suka maupun duka, saat itulah dia sudah membebaskan pengikutnya...

CAKUNG, 28 Oktober 2012
Selamat sumpah pemuda

Friday, 28 September 2012

Menepuk air di dulang

                Di masa kecil saya, saya senang sekali bermain di sungai. Saya suka dengan keindahan alam yang ada di sekitarnya dan kesenangan bermain dengan air. Walaupun saya selalu dilarang untuk bermain di sungai, saya selalu mencuri-curi waktu dan kesempatan untuk bermain ke sungai bersama dengan teman-teman saya. Entah itu sepulang sekolah sebelum sampai di rumah ataupun sore hari diam-diam keluar dari rumah untuk menyempatkan diri ke sana. Kadang sepulang berenang dari sungai, saya dan teman-teman harus menunggu lama untuk mengeringkan rambut yang basah karena berenang. Takut ketahuan…
                Satu hal yang saya paling gemari adalah berperang air. Caranya adalah dengan menepuk air dengan sudut kemiringan tertentu ke arah lawan kita. Ini sangat mengasyikkan karena memang kita dikondisikan untuk bertempur dan mencari kemenangan. Jika air yang ditepuk terkena dengan badan, itu sungguh menyakitkan. Apalagi terkena wajah, bahkan mata. Itu sungguh sangat menyakitkan.
                Tapi pernahkah anda menepuknya dari atas ke bawah? Tidak menepuk menyamping, tapi tegak lurus dengan permukaan air. Apa hasilnya?
Wajah anda akan terkena cipratan air itu. Bagaimana dampaknya?
Hal ini yang saya pelajari dari sebuah peribahasa “menepuk air di dulang”. Bagaimana tindakan kita akan dikenakan atau berdampak ke kita sendiri. Menanggung derita akibat kelakuan diri sendiri.
Kadang kita tidak menyadari akan apa yang kita lakukan. Selama itu menjadi kesenangan, pasti akan terus dilakukan. Tanpa melihat itu berdampak buat orang lain. Entah itu dampak positif atau dampak negatif. Mungkin ini makna tersirat lain dari peribahasa itu. Kontrol diri sendiri. Evaluasi itu ternyata penting. Terutama saat-saat sedang dalam performa prima. Seakan semuanya tampak lancar dan menyenangkan. Tapi di baliknya ada dampak yang kurang baik bagi orang lain, kita harus mendeteksinya dari dini.
Menepuk di air dulang hampir mirip rasanya dengan menjilat ludah sendiri. Tapi ini buntut nantinya jika memang tindakan kita berdampak negatif bagi orang lain. Jangan sampai menepuk air di dulang, tapi basuhlah muka dengan air di dulang.

Jakarta, 280920012

Wednesday, 5 September 2012

tanggung jawab itu membutuhkan integritas dan dedikasi

 Kamis, 6 September 2012

Setelah berjibaku dengan jalanan Jakarta - Bekasi dan menyempatkan diri untuk sarapan, pagi ini aku terbawa dalam alunan kata yang ditulis di http://creatingwebsite-maskolis.blogspot.com/2011/03/dua-manusia-super-di-pinggir-jalan.html  . Sambil duduk di depan PC di kantor, aku dapat artikel ini. Sangat menarik. Walau dengan permainan kata-kata yang didramatisir, aku tetap dengan sadar terbuai dalam setiap kata-kata dalam tulisan itu.

Tak sadar, akupun mulai memasuki tulisan itu. Emosi dalam tulisannya menyatu dalam emosiku pagi ini. Mataku pun mulai berkaca-kaca takkala tulisan ini sampai pada titik mengangkat integritas dan dedikasi dua orang penjaja tissu di jalanan Jakarta ini. Bagaimana tidak terharu, saat mereka membutuhkan uang (sangat membutuhkan uang) mereka masih tetap berpikir atas kepuasan pelanggan, kejujuran dan pelayanan yang maksimal. Amazing !!!

Kejujuran memang tema yang diangkat, tapi aku lebih melihat dedikasi dan integritas. Sekecil apapun tanggung jawab atau pekerjaan yang dibebankan kepadamu, ingatlah, tanggung jawab itu membutuhkan integritas dan dedikasi.


salam,

d'Niel

Tuesday, 22 May 2012

Karena Tuhan

Karena Tuhan 
Cipt : Daniel A Nababan
C=do,4/4 (terinspirasi dari II Korintus 1:7)

             C                Am7                  
Dipertemukan, dan dikumpulkan
              Dm7        Dm7/G          G
Dipersatukan dalam sebuah keluarga Tuhan
             C                Am7                  
Kaulah temanku, engkau saudaraku
        Dm7        Dm7/G          G 
karena Kristus kita satu dan menjadi keluarga
Bridge : 
       Em             Am9
walau kita saling berbeda
      Em             Dm7                G
walau kita tak slalu bersama di dunia ini

Reff :
        F      G                 Em               A7
tapi Dia 'kan memperlengkapi s'tiap kita
            Dm7        G7          C Gm C7
tuk menjadi bagian dari k'luarga sejati
            F               G              Em
dan kasihNya biarkan s'lalu mengalir
            A7            Dm7               G7          C
dan menjadi dasar kita 'tuk melayaniNya bersama

Renungan: 
...karena kami tahu, bahwa sama seperti kamu turut mengambil bagian dalam kesengsaraan kami,kamu juga turut mengambil bagian dalam penghiburan kami...(II Korintus 1:7)Keluarga bagiku adalah tempat membagikan apa yang telah Tuhan kerjakan dalam hidup kitakepada orang lain. Baik itu dukacita maupun sukacita. Membagikan dukacita, agar saudara kita tahubahwa dengan dukacita yang kita lewati bersama Kristus,saudara kita dapat dikuatkan. Membagikan sukacita, agar saudara kita tahu bagaimana bersyukur dan bersukacita bersama karena Tuhan.Pada suatu siang, saya mencoba kembali mengingat apa yang tlah Tuhan kerjakan dalam hidupku.Hal terbesar yang Dia lakukan adalah memberikanku kesempatan utk meraih anugrah keselamatan.Dan bukan hanya sampai disitu saja, aku yang dahulu "jauh" sudah menjadi "dekat" oleh darah Kristus.Proses pembentukannya tidak cukup hanya sekali. Melalui pertemuan pribadi dengan Allah dan melalui pembinaan-pembinaanNya melalui anak-anakNya. Tak dapat kupungkiri, hal itu berpengaruh besardalam hidupku. Pembinaan yang amat kurasakan adalah ketika aku kuliah di Unpad. Di sebuah kota Jatinangor, tangan Tuhan tetap membina aku. Bukan suatu kebetulan aku ada di kota itu. "Dipertemukan dan dikumpulkan..."adalah lirik pertama yang aku pilih karena memang tangan Tuhan yang memelihara itu-lah yangmempertemukan dan mengumpulkan aku dan kau dalam sebuah wadah persekutuan di PMK Jatinangor.Seperti dalam Efesus 2:12-14, dahulu yang tidak termasuk dalam kewargaan, kini masuk dalam kewargaan kerajaan Allah. Dia yang mempersatukan kita dalam sebuah keluarga Tuhan.Bait pertama lagu ini bercerita tentang proses bagaimana Tuhan menjadikan kita(PMK Jatinangor) sebuah keluarga.Jika dulunya hanya dianggap teman, namun sekarang lebih "dalam" lagi. Terungkap kata "saudara" di dalam lagu ini.Lagi-lagi diingatkan, kita dipersatukan karena Tuhan.Bagian bridge atau pertengahan lagu ini menjembatani kita dan membawa kita pada penghayatan,1. walau Tuhan t'lah mempersatukan kita, tapi kita sebagai manusia berdosa pasti terkadang berselisih paham dengan saudara kita yang lain. Konflik itu pasti terjadi dan perbedaan itu memang nyata.2. walau Tuhan t'lah mempersatukan kita, tp kita tak selamanya bisa bersama, saling menguatkan atau tetap terbina dan melayani di satu lingkungan saja.Dunia kampus akan selesai, lulus dan menjadi alumni... Apakah kita masih tetap bisa tumbuh bersama?Masihkah kita bisa kunjungan ke kosan teman utk menguatkan... Masihkah kita sempat utk merawat teman yang sedang sakit???Apa yang menjadi inti pemecahan masalah ataupun dilema itu?Agar kita bisa tetap menjadi keluargayang TUhan harapkan??1."tapi Dia 'kan memperlengkapi s'tiap kita tuk menjadi bagian dari k'luarga sejati..." (terinspirasi dari Efesus4:12) Yang pertama dan utama ialah bukan kita yang berusaha agar kita tetap menjadi sebuah keluarga. Tapi, karena Tuhan. Dia yang memperlengkapi kita bagi pembangunan tubuh Kristus yang seutuhnya.2."dan kasihNya biarkan s'lalu mengalir dan menjadi dasar kita 'tuk melayaniNya bersama" Dalam surat I Korintus 13, terdapat ada bnyk perbedaan dalam jemaat di Korintus. Tapi dari banyaknya perbedaan itu, pasal ini ditutup dengan sebuah kata kasih. Itulah kunci pemecahan masalah yang saya tampilkan di lagu ini. Walau berbeda, kita masih punya kasih yang mempersatukan. Dan kita dipersatukan untuk tetap menjadi satu tubuh Kristus. Satu tubuh Kristus yang melayani bersama. Biarlah kasihNya yang mengalir dan menjadi dasar kita untuk melayaniNya bersama. Saat ini mungkin hanya area Jatinangor. Tapi suatu saat, seluruh Indonesia bahakan dalam dunia ini bumi penuh kemuliaan Allah. Karena aku, karena engkau dan pastinya karena Tuhan.


Penekanan-penekanan lagunya terdapat di lirik "engkau saudaraku", "tapi Dia", , "dan kasihNya", karenamenggunakan nada-nada dengan jangkauan yang lebih tinggi tapi tetap pada range nada-nya.Pemakaian tanda triol terdapat pada lirik "tuk menjadi" pada bagian refrain. 

Semoga jadi berkat
d'Niel 28102006

Monday, 7 May 2012

Senja tiba

langit itu berbuat sesuka hatinya

jika dia senang, dia biru

tapi kalau kesal, dia bisa hitam


hari ini, dia warna apa yah?

mungkin dia sedang bimbang?atau mungkin sedang merenungkan sesuatu

tentang dia atau juga tentang apa cerita mereka tentang dia?


Published with Blogger-droid v2.0.1

Tuesday, 1 May 2012

Perspektif

Akhir-akhir ini aku bergelut dengan instagram dan aplikasi photo editor lainnya di tablet saya. Tampaknya memang,tren penggunaan tablet atau handset untuk mengambil dokumentasi dalam bentuk foto sedang menanjak. Masih ingatkah kita waktu meningkatnya penggunaan blackberry dan berry-berry-an yang mengikutinya akibat meningkatnya pengguna facebook? Begitu juga fenomena penggunaan handset sebagai alat dokumentasi meningkat karena wabah instagram. Awalnya hanya bisa dipakai dalam handset iphone. Tapi karena sudah ada di android, wabah instagram dan sosial media base on photo ini meningkat.

Saya pun kena wabah ini. Saya sadari semenjak ada aplikasi photo editor di hdset ini, semakin mudah kita berkreasi. Lupakan program Photoshop, corel dan kawan-kawan. Dengan ini cukup!

Tapi itu hanya sebuah perspektif. Sama seperti saya yang adalah pengikut mazhab "perspektif".

Semua orang punya sudut pandang, tapi biarkan saya berbicara dan berpendapat lewat sudut pandang saya. Coba nikmati sudut pandang saya. Jika memang suka, coba lihat dari sudut pandang saya.


salam,


Published with Blogger-droid v2.0.1

Tuesday, 24 January 2012

Menikmati

Yang terpenting adalah proses....


Hal inilah yang selalu diorasikan oleh guru Matematika dan Kimia saya sewaktu bersekolah di SMA. Di waktu kelas 2 SMA, di sebuah kota yang ada di antara bukit barisan di Sumatra Utara, saya diajarkan oleh guru Matematika saya untuk berpikir secara runtundan runut. Istilah "dik, dit, jaw" menjadi hal yang sangat dan harus dilakukan sebelum menyelesaikan pertanyaan. Begitu pula konsep "dik,dit,jaw" itu kembali ditekankan saat saya di kelas 3 dan bergumul dengan Fisika dan Kimia yang lebih rumit. Tak hanya berhenti di tingkat Menengah Atas di kota kecil, Sidikalang itu, bahkan sampai di Bandung dan Jatinangor pun, konsep itu terus melekat dalam Kalkulus.

Baru saat ini saya mengerti kenapa harus begitu. Hal yang paling saya rasakan adalah ketika metoda itu membantu saya untuk berpikir lebih analitik. Terstruktur memudahkan kita untuk mengurai permasalahan yang ada dan berkreasi untuk menyelesaikannya.


Dan yang paling akhir dari mengikuti itu adalah hasil. Tapi ada lagi hal yang unik dalam hasil ini. Entah itu baik atau buruk, hasil yang menakjubkan atau biasa saja, hasil yang menarik dan datar saja, tapi ada hal yang unik di dalammya. Yaitu bagaimana kita menikmati hasil akhir itu.


Ada satu perasaan yang tidak dimiliki oleh orang-orang yang selalu menginginkan hasil yang instan dan tidak mau terlibat banyak. Yaitu rasa menikmati hasil. Coba anda bayangkan pemgalaman anda terakhir kali anda mengerjakan sesuatu dari awal, merasakan sulit dan mudahnya pengerjaan hingga menghasilkan. Bagaimana rasanya? Adakah suatu perbedaan?


Itulah yang dinamakan "menikmati pekerjaan". Entah hasilnya standar saja bagi orang lain, tapi hasilnya "berbeda" menurut anda.


Saat ini banyak mencari "yang cepat,instan" tanpa melalui proses. Cobalah perlahan untuk melakukannya. Perlahan memang selalu mengacu pada waktu, tapi coba acukan pada berpikir secara metodologis. Kau akan menikmati setiap pemberian walaupun itu terkesan sangat sederhana.


Kebun Jeruk, 24 Januari 2012


Published with Blogger-droid v2.0.1

Monday, 19 December 2011

Memodelkan masalah dan memetakan solusi


Melihat dari berbagai sisi itu susah. Untuk itu dituntut kerendahan hati dan kerelaan diri untuk terus menggali sebuah permasalahan lebih dalam dan mengeksplorasi kemampuan untuk memodelkan permasalahan dan memetakannya kepada sebuah solusi yang lebih berdaya guna.

Melihat dari berbagai sisi menghindarkan kita dari sikap menghakimi sesuatu secara subjektf. Karena menghakimi itu akan membawa kita pada kesimpulan yang salah dan tindak lanjut yang keliru. Hal ini berdampak panjang dalam pemograman otak kita. Jika kita tetap egois dalam mempertahankan cara pandang satu sisi ini, secara lambat laun sistem penyelesaian masalah yang sedang kita kerjakan akan terprogram rutin di kepala kita dan akan membawa kita pada pola penemuan solusi yang salah.

Untuk itu kita harus melihat jangan dari satu sisi.

Akhir-akhir ini muncul sebuah kata yang sedang populer di dunia pemasaran. Terutama komunikasi pemasaran. Banyak yang menjual sistem yang dinamakan IMC (Integrated Marketing Communication). Atau di dunia praktis lain, kita sering menemukan apa yang dinamakan dengan "integrated".
Penambahan kata ini mengarahkan kita pada pola pikir yang terintegrasi. Terintegrasi dalam artian semua sisi dilihat dan disatukan secara simultan.

Dulu sewaktu di kampus, saya belajar tentang Kalkulus dan salah satu topiknya adalah integral. Menurut terjemahan saya, integral ini adalah salah satu cara untuk menghitung luas sebuah bidang yang tidak beraturan bentuknya (tapi dapat dimodelkan), dengan mempartisi bagian-bagian dari bidang itu menjadi bagian yang kecil namun bisa dimodelkan.

Dari sini aku pahami bahwa integrasi itu adalah memecah permasalahan itu menjadi bagian yang bisa dimengerti kemudian disatukan kembali membentuk kesimpulan dan melahirkan sebuah solusi yang terbaik.

Disinilah diharapakan sebuah pemikiran yang terintegrasi. Mampu memodelkan masalah dan memetakan solusi dengan melihat dari berbagai sisi.


Jakarta, 20 Desember 2011

Wednesday, 7 December 2011

NAPAK TILAS NOMMENSEN

Hidup atau mati biarlah aku tinggal di tengah-tengah bangsa ini untuk menyebarkan firman dan kerajaan-Mu. Amin” (Dr Ingwer Ludwig Nommensen)

Berbicara ttg peradaban Batak, barangkali kan lain ceritanya jika Dr Ingwer Ludwig Nommensen Tdk pernah menginjakkan kakinya di Tanah Batak. Siapakah dia dan mengapa ia dijuluki sebagai “Apostel Batak”?

Nommmensen adalah manusia biasa dengan tekad luar biasa. Perjuangan pendeta kelahiran 6 Februari 1834 di Marsch Nordstrand, Jerman Utara itu dalam melepaskan animisme dan keterbelakangan dari peradaban Batak patut mendapatkan penghormatan.

Maka tak heran, suatu kali dalam sidang zending di Barmen, ketika utusan Denmark dan Jerman mengklaim bahwa Nommensen adalah warga negara mereka, Pendeta Dr Justin Sihombing yang hadir waktu itu justru bersikeras mengatakan bahwa Nommensen adalah orang Batak.

Nommensen muda, ketika genap berusia 28 tahun telah hijrah meninggalkan Nordstrand dan hidup di Tanah Batak hingga akhir hayatnya dalam usia 84 tahun. Di masa muda Masa mudanya, ia lewati dengan menjalani pendidikan teologia (1857-1861) di Rheinische Missions-Gesselschaft (RMG) Barmen, setelah menerima sidi pada hari Minggu Palmarum 1849, ketika berusia 15 tahun.

Sebenarnya, kedatangan penginjil-penginjil Eropa ke Tanah Batak pun sudah dimulai sejak 1820-an. Pada 1824 Gereja Baptis Inggris mengirimkan dua penginjil: Pendeta Burton Ward dan Pendeta Evans yang terlebih dahulu tiba di Batavia. Pendeta Evans menginjil di Tapanuli Selatan, Pendeta Burton Ward di wilayah Silindung. Sayangnya, mereka ditolak. Konon, animesme masih kuat dalam kehidupan suku Batak.

Sepuluh tahun kemudian, dua penginjil Amerika: Samuel Munson dan Henry Lyman pun tiba di Silindung. Tapi, mereka malah mendapati ajalnya di sana setelah dibunuh oleh sekelompok orang di Saksak Lobu Pining, sekitar Tarutung. Konon, pembunuhan dilakukan atas perintah Raja Panggalamei. Kedua missionaris dimakamkan di Lobu Pining, sekitar 20 kilometer dari Kota Tarutung, menuju arah Kota Sibolga.

Impian dari kesederhanaan

Impian Nommensen untuk menjadi penginjil sudah muncul sejak kecil, meski pada pada masa-masa itu ia sudah terbiasa hidup sederhana. Dalam kesederhanaan itu, disebabkan orangtuanya yang tunakarya dan sering sakit-sakitan, ia bahkan sering kelaparan karena tidak punya makanan sehingga terpaksa mencari sisa-sisa makanan di rumah-rumah orang kaya bersama teman-temannya. Maka, sejak usia 8 tahun pun ia sudah menjadi gembala upahan hingga umur 10 tahun.

Tapi, rintangan tak luput menghambat cita-cita mulia itu. Sekali waktu, ketika berusia 12 tahun, Nommensen mengalami kecelakaan ketika berkejar-kejaran dengan temannya dan tertabrak kereta kuda sehingga membuat kakinya lumpuh. Akan tetapi Tuhan berkehendak lain. Ketika dokter yang merawatnya menganjurkan agar kakinya diamputasi, ia menolak dan meminta agar didoakan oleh ibunya dengan syarat, jika doa itu terkabul ia akan memberitakan injil kepada orang yang belum mengenal Kristus. Tak lama kemudian doa itu terkabul dan ia pun sembuh.

Pada 1853, dengan keputusan yang matang, berbekal sepatu dan pakaian seadanya, ia pun pergi meninggalkan kampung halamannya untuk meraih cita-cita dan janjinya itu, yang juga sempat tertunda karena gagal menjadi kolesi di pelabuhan Wick. Ia kemudian bertemu dengan Hainsen, mantan gurunya di Boldixum. Hainsen lalu mempekerjakannya sebagai guru pembantu di Tonderm setelah beberapa waktu menjadi koster. Di sinilah ia bertemu dengan Pendeta Hausted dan mengungkapkan cita-citanya itu. Akhirnya, ia pun melamar di Lembaga Pekabaran Injil Rhein atau RMG Barmen.

Nommensen lalu mematangkan pengetahuannya tentang injil dengan kuliah teologia pada 1857, ketika berusia 23 tahun. Pada masa itu, pekerjaan sebagai tukang sapu, pekerja kebun dan juru tulis sekolah, turut disambinya, hingga ia lulus dan ditahbiskan menjadi pendeta pada 13 Oktober1861, yang kemudian membawanya ke Tanah Batak pada 23 Juni 1862.

Dari Norsdtrand ke Silindung

Nommensen, yang kini tetap dikenang dan dipanggil dengan gelar kehormatan “Ompu I, Apostel Batak”, dalam perjalanan misi zendingnya bukanlah tanpa rintangan. Bahkan, dalam beberapa kali ia pernah akan dibunuh dengan cara menyembelih dan meracunnya. Alasannya, ia dicurigai sebagai mata-mata “si bottar mata” (stereotip ini ditujukan kepada Bangsa Belanda).

Tapi ia tidak takut sebab janjinya kepada Tuhan harus dipenuhi. Sekali waktu ia pun berkata, ”Tidak mungkin, seujung rambut pun tidak akan bisa diambil kalau tidak atas kehendak Allah.”

Sebelumnya, setelah resmi diutus dari RMG Barmen ia terlebih dahulu menemui Dr H N Van der Tuuk, yang sebelumnya pada 1849 telah diutus oleh Lembaga Alkitab Belanda untuk mempelajari Bahasa Batak. Setelah mendapatkan mendapatkan informasi lebih jauh tentang Batak, maka pada 24 Desember 1861 ia pun berangkat dengan kapal “Partinax” menuju Sumatra dan tiba di Padang pada 16 Mei 1862. Dari sana ia kemudian meneruskan perjalanannya ke Barus melalui Sibolga.

Di sinilah pertama kali ia bertemu langsung dengan orang Batak kemudian mempelajari bahasa dan adatnya. Hanya saja, ia tak lama di sana. Selain karena sudah masukya agama Islam, ia melihat adanya nilai pluraritas antarsuku yang sudah menyatu di sana: Toba, Angkola, Melayu, Pesisir.

Maka, setelah beberapa bulan tinggal di sana, ia pun memutuskan untuk pergi ke daerah lain: Sipirok. Lalu, atas keputusan rapat pendeta yang ke-2 pada 7 Oktober 1862 di Sipirok (setelah sebelumnya melayani penduduk di Parau Sorat, dan mendirikan gereja yang pertama di sana), pergilah ia menuju wilayah perkampungan Batak yang dikenal dengan Silindung.

Di sana, suatu kali di puncak (dolok) Siatas Barita (sekarang puncak Taman Wisata Rohani Salib Kasih, Tarutung Kabupaten Tapanuli Utara), Nommensen pernah hendak dibunuh. Waktu itu sedang berlangsung ritual penyembahan kepada Sombaon Siatas Barita, ialah roh alam yang disembah orang Batak. Kerbau pun disembelih. Akan tetapi, pemimpin ritual (Sibaso) tidak menyukainya dan menyuruh pengikutnya untuk membunuhnya.

Lalu, kata Nommensen kepada mereka, “Roh yang berbicara kepada Sibaso bukanlah roh Siatas Barita, nenek moyangmu, melainkan roh setan. Nenek moyangmu tidak mungkin menuntut darah salah satu keturunannya.” Sibaso jatuh tersungkur dan mereka tidak mengganggunya lagi.

Setelah berhasil menjalin persahabatan dengan raja-raja yang paling berpengaruh di Silindung: Raja Aman Dari dan Raja Pontas Lumban Tobing, maka pada 29 Mei 1864, Nommensen mendirikan gereja di Huta Dame, sekitar Desa Sait ni Huta, Tarutung. Kemudian atas tawaran Raja Pontas, maka turut didirikan jemaat di Desa Pearaja, yang kini menjadi pusat gereja HKBP.

Setelah itu ia pergi ke Humbang dan tiba di Desa Huta Ginjang. Kemudian pada 1876 ia berangkat ke Toba ditemani Pendeta Johannsen dan sampai di Balige. Tetapi, akibat situasi yang gawat waktu itu, ketika pertempuran antara pasukan Sisingamangaraja XII dengan pasukan Belanda sedang terjadi, mereka pun batal melanjutkan perjalanan dan memutuskan agar kembali ke Silindung.

Pada 1886 Nommensen kembali ke Toba (Laguboti dan Sigumpar), setelah pada 1881 Pendeta Kessel dan Pendeta Pilgram tiba dan berhasil menyebarkan injil di sana. Misi kedua pendeta ini kemudian dilanjutkan oleh Pendeta Bonn yang telah mendapat restu dari Raja Ompu Tinggi dan Raja Oppu Timbang yang menyediakan lahan gedung sekolah di Laguboti.

Pendeta Boon pindah dari Sigumpar ke Pangaloan dan Nommensen menggantikan tugasnya. Sepeninggalan Boon, Nommensen mendapat rintangan di mana sempat terjadi perdebatan sesama penduduk atas izin sebidang tanah. Setelah akhirnya mendapat persetujuan dari penduduk, ia pun mendirikan gereja, sekolah, balai pengobatan, lahan pertanian dan tempat tinggalnya di sana. Konsep pembangunan satu atap ini disebut dengan “pargodungan”, yang menjadi karakter setiap pembangunan gereja Protestan di Tanah Batak.

Dari Sigumpar, Nommensen bersama beberapa pendeta lainnya melanjutkan zending dengan menaiki “solu” (perahu) melintasi Danau Toba yang dikaguminya menuju Pulau Samosir. Maka, pada 1893 Pendeta J Warneck pun tiba di Nainggolan, 1898 Pendeta Fiise di Palipi, 1911 Pendeta Lotz di Pangururan dan 1914 Pendeta Bregenstroth di Ambarita.

Misi zending tak berhenti sampai di sana, Nommensen lalu mengajukan permohonan kepada RMG Barmen agar misinya diperluas hingga wilayah Simalungun. Permohonan itu ditanggapi dengan mengutus Pendeta Simon, Pendeta Guillaume dan Pendeta Meisel menuju Sigumpar pada 16 Maret 1903. Dari sana mereka pergi ke Tiga Langgiung, Purba, Sibuha-buhar, Sirongit, Bangun Purba, Tanjung Morawa, Medan, Deli Tua, Sibolangit dan Bukum. Bersama Nommensen, mereka pun melanjutkan perjalanan melalui Purba, Raya, Pane, Dolok Saribu hingga Onan Runggu.

Zending inkulturatif

Misi Nommensen memang penuh pengorbanan. Tapi, ia tulus. Demi misinya, ia bahkan tak sempat melihat Caroline Gutbrod, yang wafat setelah sebelumnya jatuh sakit dan terpaksa dipulangkan ke Jerman.

Nommensen juga banyak menyisakan kenangan, yang barangkali menjadi simbol pengorbanan dan jasanya kelak. Kenangan-kenangan itu ibarat benih, meski sang penabur kelak telah tiada.

Barangkali, Gereja Dame adalah salah satu benih itu, yang ketika penulis berkunjung ke sana, tampak kondisiya sudah usang tapi masih berfungsi. Gereja kecil itu adalah gereja yang pertama kali didirikannya ketika menginjakkan kakinya di daerah Silindung, Tarutung.

Lokasinya di Desa Onan Sitahuru Saitni Huta, sekitar 2 kilometer ke arah selatan Kota Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara. Di gereja ini, Nommensen mulai mengajar umatnya dengan teratur.

Selain mengajar Alkitab (termasuk menerjemahkan kitab Perjanjian Baru ke dalam bahasa Batak), ia juga mengajar pertanian serta mulai menyusun tata pelaksanaan ibadah gereja dengan teratur.

Onan Sitahuru sendiri, sekitar 1816-1817 merupakan pusat perdagangan terbesar di Tanah Batak karena terdapat sebuah “hariara” (pohon beringin) di sana. Menurut penuturan warga setempat, di pohon inilah Nommensen pernah akan dipersembahkan kepada Dewa Siatas Barita, tapi ia berhasil diselamatkan pembantunya. Pohon berusia 190 tahun itu kini masih dapat ditemui di sana.

Tercatat pula bahwa sejak tahun 1862 Nommesensen telah mendirikan gereja-gereja kecil (resort) di Sipirok dan Bunga Bondar, Parau Sorat, Pangaloan, Sigompulon; 1870 di Sipoholon, Sibolga, Aek Pasir; 1875 di Pansur Napitu, Simorangkir; 1876 di Bahal Batu; 1881 di Balige; 1882 di Sipahutar, Lintong ni Huta; 1883 di Muara; 1884 di Laguboti, 1888 di Hutabarat, Sipiongot; 1890 di Sigumpar, Narumonda, Parsambilan, Parparean; 1893 di Nainggolan; 1894 di Silaitlait; 1897 di Simanosor Batangtoru; 1898 di Palipi; 1899 di Lumban na Bolon, 1900 di Tampahan, Butar; 1901 di Sitorang; 1902 di Lumban Lobu, Silamosik, Nahornop; 1903 di Paranginan, Pematang Raya; 1904 di Dolok Sanggul; 1905 di Parmonangan, Sipiak; 1906 di Parsoburan; 1907 di Pematang Siantar; 1908 di Sidikalang; 1909 di Bonan Dolok, Tukka; 1910 di Purbasaribu; 1911 di Barus; 1914 di Ambarita; 1921 di Medan; dan 1922 di Jakarta.

Sekarang, benih-benih itu telah berbuah dengan lahirnya gereja-gereja HKBP, GKPI, HKI, GKPS, GBKP dan GKPA, sebagai buah misi zending inkulturatif, yang tidak melupakan keaslian budaya setempat dalam pelaksanaan rutinitas ibadah. Atas jasanya itu, RMG kemudian mengangkat Nommensen menjadai ephorus pada 1881 hingga akhir hayatnya dan digantikan oleh Pendeta Valentine Kessel (1918-1920). Pada 6 Februari 1904, ketika genap berusia 70, Universitas Bonn menganugerahinya gelar Doktor Honoris Causa. Namanya lalu ditabalkan untuk dua universitas HKBP yang ada di Medan dan Pematangsiantar yang hingga saat ini masih berdiri.

Kemudian, pada Oktober 1993 dibangun pula Kawasan Wisata Rohani Salib Kasih (KWRSK) di puncak Siatas Barita, di mana ia pertama kali menginjakkan kakinya di Silindung. Salib sepanjang 31 meter terpancang di sana, seakan-akan melukiskan kisah karyanya yang agung.

Nommensen wafat pada 23 Mei 1918 dan dimakamkan di sisi makam istrinya yang kedua Christine Hander dan putrinya serta missionaris lainnya di Desa Sigumpar, Kecamatan Silaen Kabupaten Toba Samosir. Sejak 1891 ia telah tinggal di sana hingga akhir hidupnya. Kemudian pada 29 Juni 1996 Yayasan Pasopar, lembaga yang peduli dengan kelestarian sejarah kekristenan di Tanah Batak, memugar makamnya dan mengabadikannya menjadi “Nommensen Memorial”.

Kini, Nommensen telah tiada, tapi karyanya tetap hidup. Ia telah menabur benih-benih cinta kasih sepanjang misinya untuk kita (Batak). Dan, sudahkah kita menuai buah cinta kasihnya itu kini? Semoga…

Biodata:

Lahir : Nordstand, 6 Februari 1834

Sidi : Minggu Palmarum 1849

Pendidikan : 1857 – 1861 sekolah pendeta di Lembaga Pekabaran Injil Rhein RMG) Barmen, Jerman.

Ditahbiskan : Ditahbiskan menjadi pendeta pada 13 Oktober pada 1861.

Awal penginjilan : Pada 24 Desember 1861 berangkat dengan kapal “Partinax” menuju Sumatera dan tiba di Padang pada 16 Mei 1862.

Tiba di Tanah Batak : 23 Juni 1862

Jabatan penting : RMG Barmen mengangkatnya menjadi ephorus pada 1881.

Penghargaan : Gelar Honoris Causa diperoleh dari Universitas Bonn, Jerman pada 6 Februari 1904, tepat pada ulangtahunnya yang ke-70.

Wafat : Pada 23 Mei 1918 wafat dan dikebumikan di Desa Sigumpar, Kecamatan Silaen, Kabupaten Toba Samosir.

CREATIF By: RONALD YOS TRIDESLA NAINGGOLAN

Thursday, 17 November 2011

Haruskah patah?

Akh...aku muak jika pikiranku ini terus berontak..

Diamlah sejenak, aku butuh ruang

Hembuskan aku angin wahai udara

biar nafas yang bergebu ini menjadi tenang

Mengikuti detakan jantungku

Semua buah pikiranku seaakan terbentur oleh batu cadas ego

Hai kau yang berbicara di atas sana...

Turun....hentikan semua suntikan palsumu

Walau aku tidak tahu banyak tapi aku tahu

Aku tahu itu salah....walau tak kutahu seberapa salah...

......

Aku mau berhenti bertentang dengan saya

Itu kuk bagiku...Kenapa jadi aku yang membentuk bebanku sendiri

.........

#hela nafas sejenak...berdiam diri dan berbicaralah dengan Nya

.........

Dia yang memberi, Dia yang mengambil

Dia yang mempercayakan, Dia yang meminta tanggung jawab

Dia yang Mahakuasa dan Dia yang Mahaberkendak


Syukur aku mengingat sebuah kata yang berdasar kokoh

Jangan kehendakku yang jadi, tapi kehendakMu-lah


Jakarta, 17 November 2011

di belakang piano di sebuah gereja


Published with Blogger-droid v2.0.1

Sunday, 1 May 2011

Senyum menciptakan kebahagiaan di sekitar kita



Senyum membuat Anda lebih menarik.
Orang yg byk tersenyum memiliki daya tarik. Orang yg suka tersenyum membuat perasaan orang disekitarnya nyaman dan senang. Orang yg selalu merengut, cemburut, mengerutkan kening, dan menyeringai membuat orang-orang disekeliling tidak nyaman..Dipastikan orang yg byk tersenyum memiliki byk teman.

Senyum mengubah perasaan
Jika Anda sedang sedih, cobalah tersenyum. Senyuman akan membuat perasaan menjadi lebih baik. Menurut penelitian, senyum bisa memperdayai tubuh sehingga perasaan berubah..

Senyum menular
Ketika seseorang tersenyum, ia akan membuat suasana menjadi lebih riang. Orang disekitar Anda pasti akan ikut tersenyum dan merasa lebih bahagia
Senyum menghilangkan stres
Stres bisa terlihat di wajah. Senyuman bisa menghilangkan mimik lelah, bosan, dan sedih.
Ketika anda stres,ambil waktu untuk tersenyum. Senyuman akan mengurangi stres dan membuat pikiran lebih jernih.

Senyum meningkatkan imunitas.
Senyum membuat sistem imun bekerja lebih baik. Fungsi imun tubuh bekerja maksimal saat seseorang merasa rileks. Menurut penelitian, flu dan batuk bisa hilang dengan senyum.

Senyum menurunkan tekanan darah
Tidak percaya? Coba Anda mencatat tekanan darah saat anda tidak tersenyum dan catat lagi tekanan darah saat anda tersenyum saat diperiksa. Tekanan darah saat Anda tersenyum pasti lebih rendah.

Senyum melepas endorphin, pemati rasa alamiah, dan serotonin
Senyum ibarat obat alami.
Senyum bisa menghasilkan endorphin,pemati rasa alamiah, dan serotonin. Ketiganya adalah hormon yg bisa mengendalikan rasa sakit.

Senyum membuat awet muda
Senyuman menggerakkan banyak otot . Akibatnya otot wajah terlatih sehingga anda tidak perlu melakukan face lift. Dijamin dengan byk tersenyum Anda akan terlihat lebih awet muda.

Senyum membuat Anda kelihatan sukses
Orang yg tersenyum terlihat lebih percaya diri,terkenal, dan bisa diandalkan. Pasang senyum saat rapat atau bertemu dengan klien. Pasti kolega Anda akan melihat Anda lebih baik.

Senyum membuat orang berpikir positif.
Coba lakukan ini : pikirkan hal buruk sambil tersenyum. Pasti susah. Penyebabnya, ketika Anda tersenyum,tubuh mengirim sinyal "hidup adalah baik". Sehingga saat tersenyum, tubuh menerimanya sebagai anugerah

Senyum menciptakan kebahagiaan di sekitar kita, Senyum adalah ketenangan bagi kegelisahan, keceriaan bagi yang kecil hati dan kegembiraan bagi yang sedih.
Senyum tidak bisa di beli, karena senyuman adalah sesuatu yang tidak berguna bagi siapapun sampai senyum itu diberikan..

Jika kalian harus menemui seseorang yang terlalu letih untuk memberimu senyuman. Berikan satu senyuman yang tulus untuk mereka. Karena tidak ada yang lebih membutuhkan senyuman daripada orang - orang yang tidak mempunyai senyuman lagi untuk deberikan..
Sebuah senyuman akan selalu diterima, karena senyuman akan membuka pintu dan hati seperti anak kunci.
Berikan setiap senyummu untuk semua orang, karena satu senyuman memberikan keceriaan pada semua orang

Friday, 29 April 2011

Sampai berapakah cukup itu?



Sebuah tulisan yang saya dapat...Memang benar, cukup itu bukan berbicara tentang kuantitas, tapi rasa syukur...


Ada Cerita, seorang petani menemukan sebuah mata air ajaib. Mata air itu bisa mengeluarkan kepingan uang emas yang tak terhingga banyaknya.Mata air itu bisa membuat si petani menjadi kaya raya seberapapun yang diinginkannya, sebab kucuran uang emas itu baru akan berhenti bila si
petani mengucapkan kata "cukup".
Seketika si petani terperangah melihat kepingan uang emas berjatuhan di depan hidungnya. Diambilnya beberapa ember untuk menampung uang kaget itu. Setelah semuanya penuh, dibawanya ke gubug mungilnya untuk disimpan disana. Kucuran uang terus mengalir sementara si petani mengisi semua karungnya, seluruh tempayannya, bahkan mengisi penuh rumahnya. Masih kurang! Dia menggali sebuah lubang besar untuk menimbun emasnya. Belum cukup, dia membiarkan mata air itu terus mengalir hingga akhirnya petani itu mati tertimbun bersama ketamakannya karena dia tak pernah bisa berkata
cukup.
Kata yang paling sulit diucapkan oleh manusia barangkali adalah kata "cukup". Kapankah kita bisa berkata cukup?
Hampir semua pegawai merasa gajinya belum bisa dikatakan sepadan dengan kerja kerasnya.
Pengusaha hampir selalu merasa pendapatan perusahaannya masih dibawah target.
Istri mengeluh suaminya kurang perhatian. Suami berpendapat istrinya kurang pengertian. Anak-anak menganggap orang tuanya kurang murah hati. Semua merasa kurang dan kurang. Kapankah kita bisa berkata cukup?

Cukup bukanlah soal berapa jumlahnya.

Cukup adalah persoalan kepuasan hati. Cukup hanya bisa diucapkan oleh orang yang bisa mensyukuri.Tak perlu takut berkata cukup. Mengucapkan kata cukup bukan berarti kita berhenti berusaha dan berkarya.

"Cukup" jangan diartikan sebagai kondisi stagnasi, mandeg dan berpuas diri. Mengucapkan kata cukup membuat kita melihat apa yang telah kita terima, bukan apa yang belum kita dapatkan. Jangan biarkan kerakusan manusia membuat kita sulit berkata cukup.

Belajarlah mencukupkan diri dengan apa yang ada pada diri kita hari ini, maka kita akan menjadi manusia yang berbahagia. Belajarlah untuk berkata "Cukup"

Wednesday, 13 April 2011

Statistika : Kesederhanaan yang dapat membangun sebuah keputusan yang tepat




Pendahuluan
Fenomena berpikir tanpa berpikir atau yang lebih dikenal dengan BLINK sangat marak di dunia pemasaran. Pemasar mulai mencari insight yang membantu mereka dalam membentuk sebuah keputusan yang tepat untuk memecahkan masalah di dunia pemasaran. Decision Support System yang harus dimiliki pemasar harus benar-benar lengkap dan integrated system. Decision Support System itu tidak harus sampai kepada informasi intelligence tapi cukup hanya dalam ranah data sederhana dengan tampilan yang sederhana-pun, data itu mampu berbicara banyak dan merangsang pemasar untuk menjadikan sebuah program yang sukses dan berkelanjutan.
Malcolm Galdwell dalam bukunya mengatakan bahwa kita perlu 10,000 hours untuk menjadi seorang ahli. Tapi bukan hanya semata-mata menghabiskan 10,000 jam tapi tidak melakukan apa-apa. Tapi bekerja dengan sekeras mungkin. Di dalam bekerja sekeras mungkin itu (extremely worked hard), itulah akan muncul sebuah tingkat intelegensi yang dapat memadukan beberapa data sederhana menjadi sebuah pengetahuan yang dapat ditindaklanjuti.

Statistika dan Statistik


Ketika mendengar kata statistik, orang-orang pasti akan cenderung berpendapat negative dibandingkan dengan pendapat positif. Statistik memang lebih dekat kepada sebuah kelompok data yang ribet, berupa baris dan kolom, deretan dan susunan angka-angka bahkan dengan kata “menyusahkan”-pun sangat dekat. Tapi di balik itu, apa yang bisa kita dapatkan dari statistik itu?
Wikipedia menjelaskan bahwa statistik adalah data, informasi, atau hasil penerapan algoritma statistika pada suatu data. Sedangkan ilmu yang mempelajarinya adalah Statistika. Salah satu alat yang paling sederhana dalam tehnik analisis statistik adalah analisis deskriptif.
Tehnik analisis statistik deskriptif adalah metode-metode yang berkaitan dengan pengumpulan dan penyajian suatu gugus data sehingga memberikan informasi yang berguna. Contoh statistika deskriptif yang sering muncul adalah, tabel, diagram, grafik, dan besaran-besaran lain. Dengan Statistika deskriptif, kumpulan data yang diperoleh akan tersaji dengan ringkas dan rapi serta dapat memberikan informasi inti dari kumpulan data yang ada.
Hal inti menjadi sorotan utama dari statistika deskriptif. Bagaimana inti dari kumpulan data yang diambil menjadi sebuah system yang dapat mendukung kita dalam mengambil sebuah kesimpulan. Tabel, diagram dan grafik tidak menjadi bentuk transformasi dari tabulasi-tabulasi dan deret angka-angka yang ditampilkan dari analisis statistic yang dilakukan melalui software-software statistik yang ada.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam transformasi data :
1.Transformasi yang dimaksud mencitrakan angka dan data yang benar dan ada.
2.Transformasi yang ditampilkan dapat meringkas dan berbicara lebih cepat.
3.Transformasi yang terbentuk mempercepat kita memahami karakteristik yang terpola.
4.Transformasi yang diwujudkan merangsang kita untuk lebih mengerti.
Dari keempat hal itulah akan muncul sebuah BLINK yang menjadikan statistic itu berdaya guna dan dapat ditindaklanjuti. Kenyataan bahwa statistik yang sederhana itu semakin terwujud ketika grafik dan diagram itu menceritakan gejala dan karakteristik yang ada.


Kesederhanaan yang dapat membangun sebuah keputusan yang tepat

Melalui data-data dan grafik sederhana dapat muncul sebuah keputusan yang tepat. Bukan harus melalui alat statistic atau metoda analisis yang advance atau inferens bisa muncul keputusan yang tepat. Memang metoda analisis lanjutan tetap dibutuhkan untuk mempelajari lebih dalam, tapi dengan melihat gejala pusat yang tepat, sebenarnya kita bisa membuat keputusan yang tepat dengan tingkat kepercayaan yang kita yakini.
Intinya adalah melihat dengan tepat sesuatu yang tepat. Mencermati statistic yang tepat dengan metoda yang tepat. Bukan semata-mata menampilkan grafik dan table yang hebat, namun bukan menggambarkan karakteristik yang ingin diteliti.
Data atau statistic itu dibutuhkan oleh setiap orang. Dan statistic itu sekarang ada banyak dan berlimpah. Namun, apakah orang sudah menggunakannya dengan tepat? Apakah data yang tepat sudah berdaya guna atau masih menjadi tumpukan file yang hanya menunjukkan kumpulan data saja tanpa didayagunakan? Sesuatu yang besar itu tidak selalu datang dari sesuatu yang besar. Bisa saja dari sebuah hal yang kecil bahkan sederhana. Tapi, jika dengan cara yang tepat mengerjakan dengan tepat apa yang tepat itu akan menjadi besar dan berdayaguna.


Sunday, 3 April 2011

hanya satu tidak bisa ....



Angin malam terasa menusuk sampai ke tulang
Bukan saja membuat nyeri, tapi cengkraman udara ini membuatku sakit
Ingin rasanya cepat pergi dari tempat ini
Ke sebuah tempat hangat, teduh dan tentram
di persimpangan antara nyawa, roh, raga dan asa

Tapi tidak bisa...oh mungkin belum saatnya lebih tepatnya
Harus benar menyadari aku harus menyediakan waktu untuk dia
Menunggu tidaklah akan menjadi bosa jika kita menyadari kenapa harus melakukan itu
Aku disini menanti dia yang kuharapkan datang

Diapun datang...Siap dengan satu sayap yang melekat di tubuhnya
Dan di tubuhku, aku pun memiliki satu sayap yang siap untuk dikibaskan
Untuk terbang pergi ke tempat tinggi itu, kami butuh dua sayap
satu darinya dan satu dariku
dengan dia dan dengan dua, kami bisa melayang
Menuju tempat tinggi ke tahapan yang selanjutnya

Aku harus menunggu, kami harus bersama agar kami bisa melayang


dari sebuah hadiah kasih sayang berupa sayap

count your blessing